Kamis, 25 Juni 2015

MANGGIS, Potensi Manfaatnya Untuk Kesehatan

Posted by Obat PenawarKu On 02.47 | No comments


MANGGIS (Garcinia mangostana L.)

Aktifitas biologi manggis yang telah diteliti al:

Antioksidan

  • Ekstraksi kulit kering buah manggis dengan alat Soxhlet menggunakan pelarut etanol 50% menghasilkan ekstrak dengan jumlah senyawa fenolik total sebesar 26,96 g ekivalen asam galat/100 g ekstrak dan tanin total sebesar 46,83 g ekivalen asam tanat/100 g ekstrak, memperlihatkan aktivitas DPPH-scavenging yang paling efektif dengan nilai EC50 112,84 μg/mL.15
  • Ekstrak kulit buah manggis yang dipisahkan menjadi delapan fraksi, empat fraksi dengan ekstraksi pelarut berturut-turut: heksan (FH); petroleum eter (FP); etil asetat (FE); dan air (FA), sedangkan empat fraksi lainnya dengan fraksinasi menggunakan kolom Sephadex LH-20 berturut-turut dinamakan fraksi (F1, F2, F3, dan F4). Senyawa fenolik diidentifikasi sebagai komponen antioksidan utama dalam setiap fraksi. Berdasarkan data hasil spektrum UV-VIS, HPLC-ESI-MS fase terbalik ditambah dengan tiolisis, HPLC-ESI-MS fase normal dan MALDI-TOFMS menunjukkan bahwa fraksi fenolik kaya akan kandungan tanin dengan struktur heterogen pada unit monomer, derajat polimerisasi dan ikatan antar flavan. Kandungan dalam manggis didominasi oleh tanin yang mengandung prosianidin dengan sejumlah besar pro-pelargonidin dan sedikit pro-delphinidin. Kandungan eikosapentamer dari tanin terkondensasi terdeteksi oleh MALDI-TOF-MS. Fraksi tanin terkondensasi dari kulit buah manggis yang banyak terdapat didalam fraksi F3 dan FE, sangat potensial dikembangkan sebagai sumber makanan yang menguntungkan karena hasil rendemen yang tinggi dan sifat antioksidannya kuat.14
  • Uji antioksidan menggunakan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) free-radical scavenging, hydroxyl radical-scavenging, dan penghambatan lipid peroksidasi, ekstrak air kulit buah manggis menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak metanol dan ekstrak heksan. Bila ditambahkan secara bersamaan dengan hidrogen peroksida (200 μM) ke dalam sel-sel keratinosit, ekstrak air (50 μg/mL), epikatekin (200 μM), dan tanin (200 μM) efektif melindungi sel dari kerusakan oksidatif, tetapi untuk ekstrak metanol, ekstrak heksan, dan α-mangostin tidak efektif. Ekstrak metanol dan ekstrak heksan menunjukkan aktivitas sitotoksik sedang pada sel keratinosit (dengan IC50 masing-masing 72 μg/mL dan 30 μg/mL), sedangkan α-mangostin menunjukkan aktivitas sitotoksik kuat dengan IC50 0,94 μg/mL. Hal ini menunjukkan kemampuan ekstrak air kulit buah manggis sebagai antioksidan dan senyawa sitoprotektif terhadap kerusakan oksidatif, yang kemungkinan disebabkan oleh kandungan senyawa fenoliknya.16
  • Ekstrak kulit buah manggis muda yang mengandung senyawa fenol dan tanin, memiliki aktivitas penangkap radikal bebas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak kulit buah matang. Ekstrak kulit buah matang yang mengandung flavonoid dan α-mangostin, memberikan aktivitas anti jerawat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kulit buah muda.17
  • α-Mangostin mampu menangkap ROS (reactive oxygen species), anion  superoksida dan anion peroksinitrit. Tetapi α-mangostin tidak mampu mengikat radikal hidroksil dan hidrogen peroksida. α-Mangostin mampu menurunkan kematian neuronal yang disebabkan oleh 3-NP (3-nitropropionic acid) pada kultur cerebellar granule neurons (CGNs). Efek ini dikaitkan dengan penurunan dari 3-NP yang merupakan induktor pembentukan ROS.18
  • Kapasitas penangkapan radikal bebas dari α-mangostin dan monoanionnya dianalisis dengan menggunakan pendekatan teori kepadatan fungsional. Menurut teori termodinamika dan kinetika, α-mangostin dalam bentuk terdeprotonasi merupakan penangkap radikal bebas yang baik melalui mekanisme hydrogen atom transfer (HAT), dengan bentuk anionik terdeprotonasi lebih reaktif dibandingkan dengan yang netral. Kapasitas penangkapan radikal bebas hidrogen superoksida mirip dengan karoten, lebih tinggi dari alisin, jauh lebih tinggi  dibandingkan dengan melatonin dan N-asetilsistein amida, dan sekitar 15 kali lebih rendah dari 2-propenesulfonat asam.19
  • Sifat antioksidan 20 senyawa xanton kulit buah manggis dipelajari menggunakan analisa kimia komputasi, berdasarkan mekanisme transfer elektron tunggal (single electron transfer mechanism, SET). Selanjutnya, berdasarkan sifat keasaman yaitu nilai pKa senyawa tersebut, bentuk monoanionik hadir dalam jumlah yang banyak. Perhitungan kimia dilakukan untuk menilai kapasitas penangkap radikal bebas dalam hal energi ionisasi dan afinitas elektron vertikal. Xanton dalam larutan air dapat mendonorkan atau menerima elektron untuk menonaktifkan radikal bebas. Reaksi transfer elektron antara xanton dan anion hidroksil atau oksigen superoksida adalah endergonik, reaksi xanton terdeprotonasi dengan anion hidroksil eksergonik. Dengan demikian, xanton terdeprotonasi lebih reaktif daripada spesi netral melalui mekanisme SET. Monoanion xanton bereaksi dengan anion hidroksil pada kecepatan yang dibatasi laju difusi.20

Antiinflamasi dan antinyeri

  • Menggunakan metode hot-plate dan geliat asetat (acetic acid-induced writhing), ekstrak etanol kulit buah manggis pada mencit galur Chinese Kun Ming secara peroral dosis 0,5; 1, dan 3 g/kg BB menunjukkan efek analgesik menggunakan metode hotplate dan geliat asetat (acetic acid-induced writhing) pada mencit. Dua senyawa hasil isolasi, α- dan γ-mangostin, menunjukkan efek analgesik pada dosis masing-masing 25 dan 50 mg/kg BB menggunakan metode hot-plate dan formalin. Ekstrak etanol dosis 0,5; 1, dan 3 g/kg BB secara signifikan menghambat xyleneinduced release of inflammatory mediators. Ekstrak, α- dan γ-mangostin masing-masing menunjukkan aktivitas penangkapan ROS seirama dengan peningkatan dosis (dose dependent).21
  • Pemberian γ-mangostin, xanton yang diambil dari kulit buah manggis dengan konsentrasi 0,1 μM pada kultur sel neuroblastoma (NG 108-15), secara in vitro dapat meningkatkan ekspresi 5-HT2A/2C, muskarinik mRNA, reseptor histamin dan bradikinin. Hal ini menunjukkan bahwa γ-mangostin berpotensi mengatasi peradangan, nyeri dan gejala neuropsikiatri.22
  • Ekstrak manggis memiliki efek penghambatan terhadap nitrit oksida (NO) dengan nilai IC50 1,0 μg/mL. Senyawa α- dan γ-mangostin memiliki efek penghambatan pelepasan NO dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 3,1 dan 6,0 μM. Ekstrak manggis memiliki efek penghambatan terhadap PGE2 (IC50 = 6.0 μg/mL), sedangkan α-dan γ-mangostin masing-masing sebesar 13,9 dan 13,5 μM. Namun, ekstrak manggis hanya memiliki efek sedang terhadap TNF-α dan IL-4 dengan nilai IC50 berkisar antara 31,8-64,8 μM. Ekstrak manggis dan α-mangostin menekan transkripsi gen pengkode inducible nitric oxide synthase (iNOS) dan siklooksigenase-2 (COX-2), sedangkan γ-mangostin hanya memiliki efek penghambatan pada transkripsi iNOS, sehingga ekstrak kulit buah manggis berpotensi mengatasi peradangan.23

Antimikroba

  • Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA) merupakan patogen nosokomial utama yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di seluruh dunia. Sebanyak 17 tanaman obat  yang diambil dari Thailand diteliti efeknya terhadap MRSA. Manggis merupakan tumbuhan yang paling berpotensi, dan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas ini adalah xanton terprenilasi yaitu α-mangostin, dengan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimal (KBM) berturut-turut sebesar 1,95 dan 3,91 μg/mL.24
  • γ-Mangostin menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA), Staphylococcus aureus, Enterococcus resisten terhadap vankomisin (VRE) dan Enterococcus dengan KHM berturut-turut 3,13; 6,25; 6,25 dan 6,25 μg/mL. Pada percobaan ini, digunakan gentamisin sebagai kontrol positif. Analisis hasil uji hayati menunjukkan bahwa kombinasi dari grup gugus hidroksil C-6 dan C-3 dengan rantai samping prenil pada C-2 dan xanton 1,3,6,7- tetraoxygenated yang diperoleh dari manggis adalah penting untuk mendapatkan aktivitas antibakteri yang tinggi.25
  • α-Mangostin efektif terhadap Candida albicans, dengan KHM dan KBM sebesar 1000 dan 2000 μg/mL. α-Mangostin memiliki aktivitas fungisida lebih rendah daripada klotrimazol (KHM dan KBM 10 dan 20 μg/mL) dan nistatin (KHM dan KBM 160 dan 320 μg/mL). Pada dosis sampai 4000 μg/mL, α-mangostin tidak toksik terhadap jaringan ikat gusi manusia selama 480 menit, sehingga berpotensi dan aman untuk penanganan kandidiasis pada mulut.26

Antijerawat

  • Ekstraksi dengan metode Soxhletasi merupakan metode yang paling efektif untuk mengekstraksi kulit buah manggis menggunakan pelarut etanol 95% (rendemen 26,60% dengan kadar α–mangostin 13,51 % b/b) dan memberikan aktivitas anti jerawat tertinggi terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis masing-masing dengan KHM 7,81 dan 15,63 μg/mL dan KBM 15,53 dan 31,25 μg/mL.15
  • Ekstraksi bertingkat kulit buah manggis menggunakan pelarut berturut-turut n-heksan, diklorometan, etanol 95% (dengan alat Soxhlet), dan diteruskan dengan ekstraksi air (infusum) dan keempat ekstrak diuji aktivitas antibakteri terhadap bakteri yang menyebabkan jerawat, P. acnes dan S. epidermidis dengan metode mikrodilusi. Ekstrak diklorometana memperlihatkan efek antibakteri kuat dengan nilai KHM untuk kedua spesies bakteri 3,91 μg/mL, sedangkan nilai KBM adalah 3,91 dan 15,63 μg/mL. Metode bioautografi menunjukkan senyawa α-mangostin merupakan senyawa aktif yang ditemukan pada ekstrak   diklorometan, n-heksan dan etanol 95%. Kadar α-mangostin ditentukan dengan HPLC. Ekstrak diklorometana menghasilkan kandungan α-mangostin tertinggi (46,21% b/b), diikuti oleh ekstrak etanol (18,03% b/b), ekstrak heksana (17,21% b/b) dan ekstrak air (0,54 % b/b). Dapat disimpulkan bahwa ekstrak diklorometan yang mengandung α-mangostin tertinggi memperlihatkan efek anti jerawat kuat.27
 
Antikaries

  • α-Mangostin hasil isolasi dari ekstrak etanol manggis menunjukkan aktivitas penghambatan yang poten terhadap produksi asam oleh Streptococcus mutans (UA159) dan aktif terhadap enzim membran termasuk F(H+)-ATPase dan sistem phosphoenolpyruvate-sugar phosphotransferase. α-Mangostin juga menghambat enzim glikolitik aldolase, gliseraldehida-3-fosfat dehidrogenase, dan laktat dehidrogenase. Proses glikolisis pada bakteri tersebut dalam bentuk suspensi atau biofilm dapat dihambat oleh α-mangostin masing-masing pada konsentrasi 12 dan 120 μmol/L dan potensi yang lebih besar pada pH rendah. Mekanisme  penghambatan lain oleh α-mangostin antara lain (i) fermentasi malolaktat yang memproduksi alkali, dan (ii) enzim oksidase NADH, merupakan enzim respirasi utama dari S. mutans. α-Mangostin merupakan inhibitor multitarget dari S. mutans dan berpotensi sebagai senyawa antikaries gigi.28

Sitotoksik, antitumor dan antiangiogenik

  • Fraksinasi dipandu uji bioaktivitas terhadap ekstrak larut kloroform kulit batang manggis, menggunakan sel HT-29 (human colon cancer cell line) dengan metode enzyme-based ELISA NF-κB dan elusidasi menggunakan spektroskopi diperoleh xanton baru yaitu 11-hidroksi-3-O-metil-1-isomangostin (1). Selain itu, diketahui 10 senyawa lain, 11-hidroksi-1-isomangostin (2), 11α-mangostanin (3),  3-isomangostin (4), α-mangostin (5), β-mangostin (6), garsinon D (7), 9-hidroksikalabaxanton (8), 8-deoksigartanin (9), gartanin (10), dan kratoksixanton (11). Senyawa 4 sampai dengan 8 memperlihatkan aktivitas sitotoksik terhadap HT-29 cell line dengan nilai IC50 masing-masing (4,9; 1,7; 1,7; 2,3 dan 9,1) μM. Pada uji NF-κB ELISA, senyawa 5 sampai 7, 9, dan 10 menghambat aktivasi p65 dengan nilai IC50 masing-masing (15,9; 12,1; 3,2; 11,3 dan 19,0) μM, dan senyawa 6 menunjukkan aktivitas penghambatan p50 dengan nilai IC50 sebesar 7,5 μM.29
  • Penelitian lain dilakukan untuk mengetahui efek sitotoksik pada tiga senyawa xanton (α-mangostin, γ-mangostin, dan 8-deoxygartanin) terhadap sel SK-MEL-28 (human melanoma cell line). γ-Mangostin dan 8-deoksigartanin pada kadar 5 μg/mL dapat meningkatkan cell cycle arrest pada fase G1 masing-masing 90% dan 92% dibandingkan dengan kontrol. Ketiga senyawa dapat menginduksi apoptosis, tertinggi oleh α-mangostin kadar 7,5 μg/mL yang dapat menginduksi apoptosis fase awal 59,6%, dibandingkan dengan kontrol. Mekanisme apoptosis tersebut melalui peningkatan caspase-3 sebesar 25 kali lipat dan penurunan penghambatan jalur mitochondrial membrane potential sebesar 9 kali lipat bila dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa α-mangostin berpotensi  sebagai anti melanoma.30
  • Pengujian α-mangostin terhadap tiga kultur sel adenokarsinoma kolorektal yaitu COLO 205, MIP-101 dan SW 620 dengan metode MTT menunjukkan efek penghambatan terhadap proliferasi sel COLO 205, MIP-101 dan SW 620 masing-masing sebesar 9,74 ± 0,85 μg/mL; 11,35 ± 1,12 μg/mL dan 19,6 ± 1,53  μg/mL. α-Mangostin diuji pengaruhnya terhadap induksi apoptosis yang hasilnya ditunjukkan melalui parameter pembesaran membran, kondensasi kromatin, fragmentasi DNA, aktivasi caspase-3, -8, dan -9, peningkatan sitokrom c yang dihasilkan mitokondria, peningkatan Bax, p53 dan Bmf serta mengurangi potensi membran mitokondria (p < 0.05). Selain itu, diuji pengaruhnya terhadap siklus sel yang hasilnya ditunjukkan melalui parameter puncak sub-G1 yang berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kontrol.31
  • Penelitian lain dilakukan untuk mengetahui aktivitas anti proliferasi dan efek  sitotoksik senyawa xanton secara in vitro dan in vivo. Hasil uji in vitro menggunakan human colorectal adenocarcinoma cell line (COLO 205), menunjukkan bahwa xanton dapat menghambat proliferasi sel target dan menginduksi apoptosis melalui aktivasi caspase cascade. Hasil uji in vivo menggunakan mencit model tumor yang diinduksi dengan sel COLO 205 secara subkutan menunjukkan bahwa pemberian xanton dosis relatif rendah secara intratumoral dapat menekan pertumbuhan tumor. Pada dosis yang lebih tinggi, ukuran tumor berkurang secara bertahap, dan pada beberapa tikus memperlihatkan hilangnya tumor. Hasil ini menunjukkan bahwa xanton berpotensi sebagai agen anti kanker.32
  • Aktivitas antimetastase α-mangostin diteliti terhadap mouse metastatic mammary cancer yang bermutasi pada p53 dan memperlihatkan spektrum metastasis menyerupai kanker mammae pada manusia dengan model  immunocompetent xenograft. Tumor mammae, yang diinduksi dengan inokulasi metastatic BJMC3879luc2 cells pada mencit galur BALB/c, kemudian diberikan α-mangostin dosis 0, 10 dan 20 mg/kg BB/hari menggunakan pompa mini-osmotik dan kemudian dilakukan pemeriksaaan histopatologi. Hasil uji in vivo menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup secara signifikan lebih tinggi pada kelompok yang diberi α-mangostin dosis 20 mg/kg BB/ hari dibandingkan kontrol, dan dapat menekan volume tumor serta penyebaran metastase nodus limpa secara signifikan. Menggunakan metode imunohistokimia α-mangostin dosis 20 mg/kg BB/hari dapat menginduksi apoptosis dengan cara meningkatkan ekspresi caspase-3 dan 9. Uji in vitro menggunakan flowcytometry, α-mangostin dapat menginduksi apoptosis melalui jalur mitokondria dan dapat menghambat fase G1  dan mereduksi fase S pada proses siklus sel. Analisis kuantitatif dan imunohistokimia secara in vivo menunjukkan bahwa α-mangostin secara signifikan menurunkan tingkat phospho-Akt-threonine 308 (Thr308), tetapi tidak terhadap serine 473 (Ser473), baik pada kultur sel mammary carcinoma cell cultures maupun pada jaringan mammary carcinoma. Selain itu, α-mangostin memiliki manfaat chemopreventive dan/atau berguna sebagai adjuvant therapy, atau sebagai obat alternatif komplementer dalam pengobatan kanker payudara.33
  • α- dan γ-Mangostin menghambat aktivitas transkripsi TCF/ β-katenin yang berperan dalam karsinogenesitas. α- dan γ-Mangostin juga menghambat ekspresi protein β-katenin dalam sel kanker usus besar, tetapi penghambatan ini tidak tergantung fosforilasi dan degradasi β-katenin. Sebaliknya, mangostin meningkatkan kadar cGMP yang bergantung kinase, menunjukkan bahwa penghambatan β-katenin dihasilkan dari intervensi gen pengatur β-katenin.34
  • Ekstrak metanol kulit buah manggis yang mengandung α-mangostin 25,19% b/b dengan dosis 0-250 mg/kg BB diuji aktivitas antitumor secara in vivo pada mencit betina galur Balb/c yang diimplantasi dengan sel NL-17 (106 sel/hewan uji) menggunakan metode WST-1, hasilnya dapat menghambat proliferasi sel dengan nilai IC50 17 μg/mL dan dengan metode LDH menghasilkan IC50 84 μg/mL. Dosis efektif untuk aktivitas antitumor berkisar antara 100-200 mg/kg BB dapat menurunkan ukuran tumor sebesar 50-70%.35
  • α-Mangostin pada kadar 3 μg/mL menunjukkan efek apoptosis pada sel HNSCC (HN-22, HN-30, HN-31) melalui penurunan ekspresi protein bcl-2 dan meningkatkan ekspresi Bax serta p53.36
  • Sebelas xanton yang terprenilasi diuji aktivitas  enghambatan fosforilasi kinase domain receptor (KDR) tyrosine  inase. α-Mangostin kadar 10 μM menunjukkan penghambatan terhadap fosforilasi KDR tyrosine kinase dan Y1175 residue of KDR. α-Mangostin juga menunjukkan efek penghambatan terhadap proliferasi sel-sel endotel vena umbilikal manusia (human umbilical vein endothelial cells/HUVECs) (IC50 1,2 μM), dan human umbilical artery endothelial cells (IC50  2,4 μM) serta migrasi sel-sel HUVEC melalui membran dengan IC50 0,034 μM dan pembentukan tubulus dari sel-sel HUVEC pada konsentrasi 0,6 dan 1,2 μM. Hasil ini menunjukkan bahwa penghambatan fosforilasi KDR tyrosine kinase berhubungan dengan aktivitas anti-angiogenik dari α-mangostin.37
  • Ekstrak senyawa xanton (81% α-mangostin dan 16% γ-mangostin), yang didapatkan dari kristalisasi ekstrak toluen kulit buah manggis, dianalisa dengan LC-MS. Efek antikanker kolon, meliputi sitotoksisitas, apoptosis, antitumor dan efek terhadap cell signalling pathways diamati terhadap sel kanker kolorektal HCT 116 pada manusia. Hasilnya, ekstrak senyawa xanton, α-mangostin dan γ-mangostin mampu menghambat sel kanker kolon dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 6,5±1,0 μg/mL; 5,1±0,2 μg/mL dan 7,2±0,4 μg/mL. Uji in vivo efek anti kanker kolon ekstrak senyawa xanton diuji pada sel HCT 116 subcutaneous tumor model mencit NCR nu/nu. Hasilnya, perlakuan menggunakan ekstrak α-mangostin mengakibatkan nekrosis tumor pada 2 hewan uji dan penurunan ukuran tumor yang signifikan dibandingkan dengan kontrol. Penurunan ukuran tumor diamati setiap interval 5 hari dan penurunan signifikan terjadi pada hari ke-15 setelah perlakuan (0,5% b/b), dan pada hari ke-20 (0,25% b/b) (p< 0,05).38

Aktivitas perlindungan terhadap kerusakan cardiac reperfusion

  • Penelitian ini dirancang untuk mengetahui apakah α-mangostin mampu melindungi  luka reperfusi pada Langendorff-reperfused jantung. Telah dilakukan  pengamatan bahwa α-mangostin mempertahankan kerja mekanik jantung, mengurangi area infark, dan mencegah penurunan ATP jantung dan tingkat fosfokreatinin dalam reperfusi otot jantung. Efek perlindungan xanton ini berkaitan  dengan pengurangan stres oksidatif. Penggunaan α-mangostin mencegah oksidasi protein (protein yang mengandung karbonil) yang terinduksi luka reperfusi, peroksidasi lipid (kandungan malondialdehid dan 4-OH-nonenal) dan  penurunan kadar glutation. Bahkan setelah penggunaan α-mangostin, nilai-nilai dalam parameter ini sebanding dengan yang diperoleh pada jantung yang tidak mengalami reperfusi. Dapat disimpulkan bahwa α-mangostin menginduksi efek perlindungan pada jantung pasca-iskemi melalui pencegahan stres oksidatif sekunder terhadap luka reperfusi.39

Anti Alzheimer

  • β-Amiloid memainkan peran penting dalam patogenesis penyakit Alzheimer dengan menginduksi neurotoksisitas dan kematian sel terutama melalui produksi  ROS. Manggis telah diakui sebagai sumber utama antioksidan alami yang dapat  menurunkan ROS. Namun, perannya dalam perlindungan dari β-amiloid pada sel saraf masih belum jelas. Oleh karena itu dilakukan uji efek perlindungan ekstrak manggis dengan mengevaluasi viabilitas sel (menggunakan uji MTT), level ROS, aktivitas caspase-3, dan proteom seluler. Induksi sel SK-N-SH dengan 5-20 μM peptida β-amiloid 1-42 selama 24 jam menyebabkan perubahan morfologis sitotoksik, penurunan viabilitas sel dan peningkatan level ROS, sedangkan preinkubasi dengan 50-400 μg/mL ekstrak manggis 30 menit sebelum induksi dengan β-amiloid berhasil mencegah efek sitotoksik tersebut yang tergantung dosis (paling baik dosis 400 μg/mL). Induksi β-amiloid terhadap peningkatan aktivitas caspase-3 juga dapat dicegah pada dosis 400 μg/mL ekstrak manggis. Analisis proteomik menggunakan gel elektroforesis 2D (n=5 gel/kelompok) diikuti dengan spektrometri massa terungkap 63 protein yang kadarnya secara signifikan diubah oleh induksi β-amiloid. Perubahan 10 protein berhasil dicegah oleh praperlakuan ekstrak manggis. Singkatnya, dapat dilaporkan bahwa efek perlindungan yang signifikan dari ekstrak manggis terhadap sitotoksisitas induksi β-amiloid, peningkatan ROS, dan peningkatan aktivitas caspase dalam sel SK-N-SH. Selain itu, analisis proteomik mengungkapkan beberapa protein yang kemungkinan bertanggung jawab atas efek pelindung oleh ekstrak manggis. Karakterisasi lebih lanjut protein ini kemungkinan untuk mengidentifikasi target terapi baru untuk pencegahan dan atau menurunkan keparahan penyakit Alzheimer.5

Antihiperglikemi

  • Ekstrak etanol kulit buah manggis mengandung sejumlah turunan xanton yang memperlihatkan aktivitas penghambatan yang poten terhadap α-glukosidase (IC50 = 3,2 μg/mL). Sejumlah senyawa xanton yang diisolasi, memperlihatkan aktivitas penghambatan yang poten terhadap α-glukosidase dari rendah sampai tinggi dengan nilai IC50 antara 1,5 μM sampai 63,5 μM. Aktivitas senyawa- senyawa xanton menunjukkan hubungan antara aktivitas dengan jumlah dan posisi substitusi hidroksil. Hasil uji menunjukkan aktivitas penghambatan masingmasing γ-mangostin (IC50 1,5 μM), α-mangostin (IC50 5,0 μM), β-mangostin (IC50 14,4 μM), smeathxanton (IC50 6,9 μM), gartanin (IC50 10,8  μM), mangostingon (IC50 9,8 μM). Uji menggunakan substrat fisiologis maltosa, beberapa senyawa juga menunjukkan penghambatan yang poten dengan nilai berkisar antara 17,5 μM and 53,5 μM dibandingkan dengan deoksinojirimisin  (IC50 68,8 μM). Ekstrak etanol mempunyai potensi menurunkan kadar glukosa darah postprandial. Kulit biji pada kromatogram High Performance Liquid Chromatography (HPLC) menunjukkan aktivitas penghambatan α-glukosidase yang paling tinggi.40
  • Aktivitas ultraviolet-screening Ekstrak n-butanol kulit buah manggis dan α-mangostin diuji aktivitasnya untuk menapis sinar ultraviolet dibandingkan  dengan rutin dan ultramikro-titanium dioksida (TiO2). Ekstrak n-butanol kulit buah  manggis, α-mangostin, rutin dan TiO2 dipindai pada panjang gelombang yang berbeda menggunakan spektrofotometri ultraviolet. Ekstrak n-butanol dan α-mangostin memperlihatkan efek menapis sinar ultraviolet yang relatif baik pada konsentrasi lebih dari 0,40 mg/mL dan lebih baik jika dibandingkan TiO2.41

Data Toksisitas Manggis:
  • Pemberian ekstrak metanol daging buah manggis dosis 1, 2 dan  3 g/kg BB peroral selama 7 dan 14 hari pada tikus galur Wistar menunjukkan tidak ada kematian maupun perubahan dalam berat badan, berat relatif organ, cytoarchitecture organ, biokimia klinis, enzim penanda serum dan parameter hematologi bila dibandingkan dengan kontrol.42 
  • Ekstrak metanol kulit buah manggis yang mengandung α-mangostin 25,19% b/b pada uji toksisitas akut menggunakan mencit betina BALB/c menunjukkan LD50 1000 mg/kg BB yang setara dengan 1800 mg/kg BB pada tikus sehingga dikategorikan sedikit toksik.35 
  • Pada penelitian lain, ekstrak etanol daging buah manggis dosis 2 dan 5 g/kg BB yang diberikan pada tikus galur Swis dan Wistar, secara peroral selama 14 hari, hasilnya tidak menunjukkan efek toksik, sedangkan pemberian dosis 400, 600, dan 1200 mg/kg BB peroral pada tikus jantan dan betina galur Wistar setiap hari selama 12 minggu tidak menunjukkan efek perubahan tingkat laku, pola makan dan minum, pertumbuhan atau kesehatan, dan nilai hematologi jika dibandingkan dengan kontrol. Setelah 12 minggu, tidak terdapat perbedaan konsentrasi dalam parameter biokimia darah pada kelompok betina, namun pada kelompok jantan, terdapat peningkatan kadar bilirubin dengan dosis bervariasi dibandingkan dengan kontrol. Pada uji histopatologi tidak menunjukkan kelainan jaringan organ seperti jantung, hati, ginjal dan limpa.43 
  • Pada uji toksisitas kronis ekstrak etanol 95% kulit buah manggis dosis 10, 100, 500 dan 1000 mg/kg BB peroral setiap hari selama enam bulan, menunjukkan penurunan berat badan tikus jantan dan betina pada dosis tertinggi. Pada dosis 500 mg/kg BB/ hari, alanine transminase (ALT) tikus jantan secara signifikan lebih tinggi. Tikus jantan dan betina dengan ekstrak dosis tertinggi memiliki aspartate transminase (AST) lebih tinggi, sedangkan kadar glukosa lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol. Tikus jantan pada dosis tertinggi dan kelompok satelit memiliki nilai blood urea nitrogen (BUN) lebih tinggi. Tikus betina yang menerima ekstrak pada dosis 500 mg/kg BB/ hari memiliki BUN dan kreatinin lebih tinggi. Hasil histopatologi organ visceral menunjukkan tidak ada lesi yang signifikan terkait dengan ekstrak, kecuali kelompok satelit dari kedua jenis kelamin, yang memiliki lesi lebih tinggi pada hati, di mana kelompok satelit menggunakan dosis tertinggi. Empat belas hari setelah pemberian dihentikan, gangguan fungsi hati dan ginjal belum mengalami pemulihan bahkan meningkat.44 
  • Pada dosis besar dan pemakaian jangka panjang beresiko negatif terhadap fungsi hati dan ginjal.45

Daftar Pustaka :
  1. Verheij EWM. Garcinia mangostana L. In: Verheij EWM and Coronel RE. (Editors). Plant resources of South-East Asia No. 2: Edible fruits and nuts. Wageningen: Pudoc; 1991: p.177-181.
  2. Materia medika Indonesia. Jilid V. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 1989: p.221-225.
  3. Morton J. Mangosteen. In: Fruits of warm climates. 1987; Miami: p.301-304.
  4. Garcinia mangostana L. Taxonomic Serial No.: 21484, ITIS [May, 28th, 2012] from the Integrated Taxonomic Information System (ITIS) (http://www.itis.gov).
  5. Moongkarndi P, Srisawat C, Saetun P, Jantaravinid J, Peerapittayamongkol C, Soi-ampornkul R, Junnu S, Sinchaikul S, Chen ST, Charoensilp P, Thongboonkerd V, Neungton N. Protective effect of mangosteen extract against beta-amyloid-induced cytotoxicity, oxidative stress and altered proteome in SK-N-SH cells. J Proteome Res. 2010 May 7; 9(5): 2076-2086.
  6. Mardisiswojo S, Rajakmangunsudarso H. Cabe puyang warisan nenek moyang. Jakarta: PN Balai Pustaka; 1985: p.143-144.
  7. Pedraza-Chaverri J, Cárdenas-Rodríguez N, Orozco-Ibarra M, Pérez-Rojas JM, Medicinal properties of mangosteen (Garcinia mangostana), Food Chem Toxicol. 2008;46(10):3227-3239.
  8. Chairungsrilerd N, Takeuchi K, Ohizumi Y, Nozoe S, Ohta T. Mangostanol, a prenyl xanthone from Garcinia mangostana. Phytochem. 1996; 43(5): 1099-1102.
  9. Chaivisuthangkura AY, Malaikaew A, Chaovanalikit A, Jaratrungtawee P, Panseeta P, Ratananukul S, Suksamrarn. Prenylated xanthone composition of Garcinia mangostana (mangosteen) fruit hull. Chromatographia. 2009; ( 69): 3-4.
  10. Keiser J, Vargas M, Winter R. Anthelminthic properties of mangostin and mangostin diacetate. Parasitology International. 2012; 61: 369-371.
  11. Ho CK, Huang YL, Chen CC. Garcinone E, a xanthone derivative, has potent cytotoxic effect against hepatocellular carcinoma cell lines. Planta Med. 2002; 68: 975-979.
  12. Zadernowski R, Czaplicki S, Naczk M. Phenolic acid profiles of mangosteen fruits (Garcinia mangostana). Food Chemistry. 2009; 112: 685-689.
  13. Zarena AS, Udaya Sankar K. Isolation and  identification of pelargonidin 3-glucoside in mangosteen pericarp. Food Chemistry. 2012; 130: 665-670.
  14. Zhou HC, Lin YM, Wei SD, Tam NF. Structural diversity and antioxidant activity of condensed tannins fractionated from mangosteen pericarp. Food Chemistry. 2011; 129: 1710-1720.
  15. Pothitirat W, Chomnawang MT, Supabphol R, Gritsanapan W. Free radical scavenging and anti-acne activities of mangosteen fruit rind extracts prepared by different extraction methods. Pharm Biol. 2010; 48(2): 182-186.
  16. Ngawhirunpat T, Opanasopi P, Sukma M, Sittisombut C, Kat A, Adachi I. Antioxidant, free radical-scavenging activity and cytotoxicity of different solvent extracts and their phenolic constituents from the fruit hull of
    mangosteen (Garcinia mangostana), Pharm Biol. 2010; 48(1): 55-62.
  17. Pothitirat W, Chomnawang MT, Supabphol R, Gritsanapan W. Comparison of bioactive compounds content, free radical scavenging and anti-acne inducing bacteria activities of extracts from the mangosteen fruit rind at two stages of maturity. Fitoterapia. 2009; 80(7): 442-447.
  18. Pedraza-Chaverrí J, Reyes-Fermín LM,  Nolasco-Amaya EG, Orozco-Ibarra M, Medina-Campos ON, González-Cuahutencos O, Rivero-Cruz I, Mata R. ROS scavenging capacity and neuroprotective effect of α-mangostin against 3-nitropropionic acid in cerebellar granule neurons. Exp Toxicol Pathol. 2009; 61(5): 491-501.
  19. Martínez A, Galano A, Vargas R. Free radical scavenger properties of α-mangostin: thermodynamics and kinetics of HAT and RAF  mechanisms. J Phys Chem B. 2011; 115 (43): 12591-12598.
  20. Martínez A, Hernández-Marin E, Galano A. Xanthones as antioxidants: a theoretical study on the thermodynamics and kinetics of the single electron transfer mechanism. Food Funct. 2012; (3): 442-450.
  21. Cui J, Hu W, Cai Z, Liu Y, Li S, Tao W, Xiang H. New medicinal properties of mangostins: analgesic activity and pharmacological characterization of active ingredients from the fruit hull of Garcinia mangostana L. Pharmacol
    Biochem Behav. 2010; 95(2): 166-172.
  22. Sukma M, Tohda M, Suksamran S, Tantisira B. γ-Mangostin increases serotonin2A/2C, muscarinic, histamine and bradykinin receptor mRNA expression. J Ethnopharmacol. 2011; 135(2): 450-454.
  23. Tewtrakul S, Wattanapiromsakul C, Mahabusarakam W. Effects of compounds from Garcinia mangostana on inflammatory mediators in RAW264.7 macrophage cells. J Ethnopharmacol. 2009; 121(3):  379-382.
  24. Chomnawang MT, Surassmo S, Wongsariya K, Bunyapraphatsara N. Antibacterial activity of Thai medicinal plants against methicillin-resistant
    Staphylococcus aureus. Fitoterapia. 2009; 80(2): 102-104.
  25. Dharmaratne HR, Sakagami Y, Piyasena KG, Thevanesam V, Antibacterial activity of xanthones from Garcinia mangostana L. and their structure-activity relationship studies, Nat Prod Res. 2012.
  26. Kaomongkolgit R, Jamdee K, Chaisomboon N. Antifungal activity of alpha-mangostin against Candida albicans. J Oral Sci. 2009; 51(3): 401-406.
  27. Pothitirat W, Chomnawang MT, Gritsanapan W. Antiacne-inducing bacterial activity of mangosteen fruit rind extracts. Med Princ Pract. 2010; 19(4):  281-286.
  28. Nguyen PT, Marquis RE. Antimicrobial actions of α-mangostin against oral streptococci. Can J Microbiol. 2011; 57(3): 217-225.
  29. Han AR, Kim JA, Lantvit DD, Kardono LB, Riswan S, Chai H, Carcache de Blanco EJ, Farnsworth NR, Swanson SM, Kinghorn AD. Cytotoxic xanthone constituents of the stem bark of Garcinia mangostana (mangosteen). J Nat Prod. 2009; 72(11): 2028-2031.
  30. Wang JJ, Sanderson BJ, Zhang W, Cytotoxic effect of xanthones from pericarp of the tropical fruit mangosteen (Garcinia mangostana Linn.) on human melanoma cells, Food Chem Toxicol. 2011; 49(9): 2385-2391.
  31. Watanapokasin R, Jarinthanan F, Nakamura Y, Sawasjirakij N, Jaratrungtawee A, Suksamrarn S. Effects of α-mangostin on apoptosis induction of human colon cancer. World J Gastroenterol. 2011; 17(16): 2086–2095.
  32. Watanapokasin R, Jarinthanan F, Jerusalmi A, Suksamrarn S, Nakamura Y, Sukseree S, Uthaisang-Tanethpongtamb W, Ratananukul P, Sano T. Potential of xanthones from tropical fruit mangosteen as anti-cancer agents: caspasedependent apoptosis induction in vitro and in mice. Appl
    Biochem Biotechnol. 2010; 162(4): 1080-1094.
  33. Shibata MA, Iinuma M, Morimoto J, Kurose H, Akamatsu K, Okuno Y, Akao Y, Otsuki Y. α-Mangostin extracted from the pericarp of the mangosteen (Garcinia mangostana Linn) reduces tumor growth and lymph node metastasis in an immunocompetent xenograft model of metastatic mammary cancer carrying a p53 mutation. BMC Med. 2011; 9: 69.
  34. Yoo JH, Kang K, Jho EH, Chin YW Kim J, Nho CW. α-Mangostin dan γ-mangostins inhibit the proliferation of colon cancer cells via β-catenin gene regulation in Wnt/cGMP signalling. Food Chem. 2011; 129: 1559-1566.
  35. Kosem N, Ichikawa K, Utsumi H, Moongkarndi P. In vivo toxicity and antitumor activity of mangosteen extract. J Nat Med. 2012.
  36. Kaomongkolgit R, Chaisomboon N, Pavasant P. Apoptotic effect of alpha-mangostin on head and neck squamous carcinoma cells. Arch Oral Biol. 2011; 56(5): 483-490.
  37. Shiozaki T, Fukai M, Hermawati E, Juliawaty LD, Syah YM, Hakim EH, Puthongking P, Suzuki T, Kinoshita K, Takahashi K, Koyama K. Anti-angiogenic effect of α-mangostin. J Nat Med. 2012.
  38. FA Aisha A, Abu Salah KM, Ismail Z, Abdul Majid AMS. In vitro and in vivo anti-colon cancer effects of Garcinia mangostana xanthones extract. BMC Complementary and Alternative Medicine. 2012; 12:104.
  39. Buelna-Chontal M, Correa F, Herna´ndez-Rese´ndiz S, Zazueta C, Pedraza-Chaverri J. Protective Effect of a-Mangostin on Cardiac Reperfusion Damage by Attenuation of Oxidative Stress. J Med Food. 2011; 14 (11): 1370-1374.
  40. Ryu HW, Cho JK, Curtis-Long MJ, Yuk HJ, Kim YS, Jung S, Kim YS, Lee BW, Park KH. α-Glucosidase inhibition and antihyperglycemic activity of prenylated xanthones from Garcinia mangostana. Phytochemistry. 2011; 72(17):2148-2154.
  41. Zhang C, Bu Q, Zheng Y, Song B, Li W. Study on ultravioletscreening effect of extracts from mangosteen (Garcinia mangostana Linn.) pericarp. Wei Sheng Yan Jiu. 2011; 40(4): 505-506.
  42. Vishnu Priya V, Jainu M, Mohan SK, Karthik B, Saraswathi P, Chandra Sada Gopan VS. Toxicity study of Garcinia Mangostana Linn. pericarp extract in rats. Asian J Exp Biol Sci. 2010; 1(3): 633-637.
  43. Hutadilok-Towatana N, Reanmongkol W, Wattanapiromsakul C,  Bunkrongcheap R. Acute and subchronic toxicity evaluation of the hydroethanolic extract of mangosteen pericarp. J Med Plants Res. 2010;
    4(10): 969-974.
  44. Chivapat S, Chavalittumrong P, Wongsinkongman P, Phisalpong C, Rungsipipat A. Chronic toxicity study of Garcinia mangostana Linn. pericarp extract. Thai J Vet Med. 2011. 41(1): 45-53.
  45. Foti RS, Pearson JT, Rock DA, Wahlstrom JL, Wienkers LC. In vitro inhibition of multiple cytochrome P450 isoforms by xanthone derivatives from mangosteen extract. Drug Metab Dispos. 2009; 37(9): 1848-1855.




0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About

Informasi herbal di situs ini dimaksudkan hanya untuk tujuan memperkaya informasi seputar herbal atau sebagai bahan pertimbangan dalam memutuskan untuk memberikan/ menerima suatu terapi herbal. Informasi tersebut tidak ditujukan sebagai pengganti terapi oleh praktisi kesehatan yang berwenang. Pengelola situs tidak bertanggung jawab atas konsekuensi/akibat dari penggunaan informasi herbal ini.