Kamis, 25 Juni 2015

JINTEN HITAM (Nigella sativa L.)

 Aktivitas Biologi yang telah diteliti 

Aktivitas antibakteri 
  • Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji jinten hitam pada strain Staphylococcus aureus resisten metisillin (MRSA) menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji jinten hitam dengan konsentrasi 4 mg/ cakram menghambat pertumbuhan 99 strain bakteri uji dan nilai KHM antara 0,2-0,5 mg/mL.(10)
  • Uji aktivitas antibakteri ekstrak biji jinten hitam menggunakan metode sumuran menunjukkan zona hambatan maksimum sebesar 31 mm pada isolat bakteri Proteus sp., serta zona hambatan moderat sebesar 8-22 mm terhadap Klebsiella sp, Pseudomonas sp, Escherichia coli.(11)
  • Uji aktivitas antibakteri minyak atsiri dan timokuinon dari biji jinten hitam terhadap 30 jenis bakteri menunjukkan aktivitas paling tinggi pada minyak atsiri terhadap Streptococcus mitis, S. mutans, S. constellatus dan Gemella haemolysans dengan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 2,13 mg/mL, sedangkan timokuinon memberikan aktivitas paling tinggi pada S. constellatus dengan nilai KHM sebesar 4 μg/mL.(12)
  • Uji aktivitas antibakteri dan inhibisi biofilm timokuinon terhadap 11 bakteri patogen dengan menggunakan metode crystal violet (CV) dan reduksi 2, 3-bis [2-metiloksi-4-nitro-5- sulfofenil]-2H-tetrazolium-5-karboksanilid (XTT)  menunjukkan aktivitas bakterisidal yang signifikan terhadap mayoritas bakteri uji dengan rentang KHM 8-32 μg/mL terutama pada Gram positif cocci (Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan S. epidermidis CIP 106510). Pada uji CV, konsentrasi minimum yang menghambat pembentukan biofilm sebesar 50% (BIC50) diperoleh pada konsentrasi 22 dan 60 μg/mL terhadap kedua bakteri tersebut. Pemberian timokuinon mempengaruhi aktivitas oksidasi sel dan mencegah adhesi sel ke permukaan kaca obyek.(13)
  • Minyak atsiri dan minyak lemak biji jinten hitam menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap strain bakteri Gram negatif Escherichia coli (ATCC 35218), Pseudomonas aeruginosa (ATCC 10145), Acinetobacter baumannii (RSKK 02026), Staphylococcus aureus (ATCC 25923), dan Enterococcus faecalis (ATCC 29212) dengan KHM antara 8-64 μg/mL. Senyawa yang sama juga menunjukkan aktivitas terhadap Mycobacterium avium (ATCC 15769) dengan KHM 8 μg/mL.(14)  

Aktivitas antifungi

  • Minyak atsiri dan minyak lemak dari biji jinten hitam menunjukkan aktivitas antifungi terhadap Candida albicans, C. tropicalis dan C. krusei dengan KHM masing-masing sebesar 32, 32, dan 64 μg/mL.(14)
  • Uji aktivitas antifungi dua senyawa peptida defensin hasil isolasi dari biji jinten hitam, Ns-D1 dan Ns-D2, terhadap beberapa spesies fungi fitopatogen Aspergillus niger, Bipolaris sorokiniana, Fusarium oxysporum, F. graminearum, F. culmorum dan Botrytis cinerea dengan menggunakan metode mikrodilusi menunjukkan aktivitas antifungi yang kuat dengan IC50 untuk kedua senyawa terhadap masing-masing bakteri berturut-turut sebesar 3,5; 3,0; 9,5; 6,9; 6,9 dan 27,4 μg/mL (Ns-D1) dan 3,5; 1,8, 5,3; 6,9; 6,9 dan 13,7 μg/mL (Ns-D2). Nilai KHM untuk kedua senyawa terhadap spesies Fusarium adalah 55 μg/mL, untuk B. sorokiniana, masing-masing sebesar 27,5 dan 55 μg/ mL, sedangkan terhadap  jamur yang lain, KHM nya antara 55-82 μg/mL.(15)

Aktivitas antiviral

  • Minyak biji jinten hitam diberikan peroral dengan dosis 450 mg tiga kali sehari selama 3 bulan pada 30 pasien penderita hepatitis C, kemudian dilakukan pemeriksaan titer virus dan beberapa parameter lainnya seperti kadar total  protein, albumin, dan total kapasitas antioksidan setiap dua minggu. Hasil yang diperoleh menunjukkan penurunan titer virus yang signifikan pada 66,67% pasien (P<0,001), peningkatan kadar albumin (P<0,008), total protein dan total  kapasitas antioksidan (P<0,001).(16)

Aktivitas antioksidan

  • Uji in vitro aktivitas antioksidan ekstrak metanol biji jinten hitam dan fraksinya menggunakan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) radical scavenging menunjukkan aktivitas antioksidan yang poten dengan nilai IC50 ekstrak metanol, fraksi etil-asetat, heksan dan air berturut-turut sebesar 2,26; 2,65; 1,89 dan 2,17 mg/mL. Potensi antioksidan ekstrak metanol dan fraksinya yang ditunjukkan dengan nilai IC50 tersebut berkorelasi linear terhadap jumlah total senyawa fenolik, dimana total senyawa fenolik ekstrak metanol, fraksi etil-asetat, heksan dan air berturutturut sebesar 27,8; 78,8; 12,1; dan 32,1 mg/g ekivalen asam galat/100 g ekstrak. Tingkat total senyawa fenolik yang tinggi menghasilkan IC50 rendah dan kapasitas antioksidan tinggi.(17)
  • Uji aktivitas antioksidan timokuinon dosis 5 mg/kg BB sekali sehari selama 21 hari pada tikus galur Wistar yang diinduksi kolagen menunjukkan perubahan yang signifikan terhadap semua parameter yang diamati meliputi articular elastase, mieloperoksidase (MPO), peroksidasi lipid (LPO), level glutation (GSH), katalase (CAT), superoksid dismutase (SOD) dan nitrit oksida (NO).(18)

Aktivitas antiinflamasi dan analgesik

  • Ekstrak etanol biji jinten hitam konsentrasi 1,25-20 μL/mL mampu menghambat produksi nitrit oksida sel mix glial tikus yang diinduksi inflamasi dengan  lipopolisakarida.(19)
  • Fraksi heksana dari ekstrak metanol biji jinten hitam mampu menginhibisi pelepasan nitrit oksida dari makrofag sel RAW 264,7 yang diinduksi inflamasi dengan lipopolisakarida diperoleh nilai IC50 6,20 μg/mL.(20)
  • Timokuinon konsentrasi 25-75 μM pada sel pancreatic ductal adenocarcinoma (PDA) mampu menurunkan sintesis MCP-1, TNF-α, interleukin (IL)-1β dan COX-2, menurunkan aktivitas intrinsik promotor MCP-1, menghambat aktivasi NF-κB yang dimediasi TNF-α, serta menurunkan transport NF-κB dari sitosol ke nukleus. Hal ini menunjukkan aktivitas antiinflamasi dari timokuinon di mana inflamasi merupakan salah satu faktor dalam perkembangan keganasan tumor.(21)
  • Pemberian minyak atsiri jinten hitam peroral dosis 100, 200 dan 400 mg/kg BB pada mencit jantan galur ddY mampu menekan respon nyeri sistemik atau lokal akibat induksi asam asetat 0,6% (10 mL/kg, i.p.) secara signifikan (p<0,05)  dengan penghambatan masing-masing sebesar 41, 46 dan 60% dibandingkan kontrol negatif.(22)
  • Ekstrak air jinten hitam dosis 500 mg/kg BB peroral pada tikus Wistar (n=8) yang diinduksi inflamasi dengan karagenan menunjukkan penurunan signifikan udem telapak kaki tikus dibandingkan kontrol negatif. Pemberian ekstrak dengan dosis yang sama pada uji analgesik dengan metode hot plate menunjukkan bahwa pada menit ke-90 rata-rata waktu reaksi kelompok ekstrak dan aspirin sama dan berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif.(23)
  • Pemberian ekstrak etanol biji jinten hitam dosis 0,08 g/hari secara peroral pada babi galur Dunkin-Hartley yangdiinduksi radang paru-paru dengan sulfur mustard menunjukkan peningkatan tracheal responsiveness, dan pada jaringan paru terjadi peningkatan jumlah eosinofil, monosit, limfosit, IL-4 dan interferon-γ (IFN-γ) secara signifikan (p<0,05 dan p<0,01) dibandingkan dengan kontrol negatif.(24)
    Pemberian 2 kapsul berisi plasebo dua kali sehari selama 1 bulan diikuti pemberian kapsul berisi minyak jinten hitam 500 mg dua kali sehari selama 1 bulan pada 40 orang penderita rheumatoid arthritis menunjukkan penurunan signifikan aktivitas penyakit yang diukur melalui disease activity score (DAS28) menjadi sebesar 4,55±0,82 dibandingkan sebelum dan sesudah pemberian plasebo (4,98±0,79 dan 4,99±0,72). Frekuensi pembengkakan sendi dan durasi kekakuan sendi di pagi hari juga dilaporkan menurun.(25)

Aktivitas pada sistem saraf
a. Aktivitas neuroprotektif

  • Pemberian fraksi kloroform (terhadap hasil destilasi uap) biji jinten hitam dosis 400 mg/kg BB peroral sekali sehari selama 30 hari pada tikus segera setelah tikus dibuat cedera saraf siatik dengan cara menempatkan klip aneurisma di kaki kiri tikus sehingga menjadi trauma menunjukkan perbaikan berupa  peningkatan jumlah neuron pada jaringan saraf siatik sebesar 48% dibandingkan dengan kelompok tikus trauma (84,23 /μm2). Hasil ini sama dengan jumlah pada tikus kontrol yang tidak diinduksi trauma serta tidak dijumpai adanya kelainan saraf.(26)
  • Stres oksidatif berperan penting terhadap kerusakan otak dalam model eksperimen iskemia otak. Timokuinon, senyawa utama dari minyak jinten hitam yang bersifat antioksidan diuji aktivitasnya sebagai neuroprotektif. Pemberian timokuinon 5 mg/kg BB/hari peroral selama 5 hari sebelum induksi iskemia dan dilanjutkan selama 7 hari reperfusi menunjukkan penurunan secara signifikan (p<0,001) jumlah kematian sel neuronal hippocampal menjadi sebesar 24% dibandingkan pada tikus yang diinduksi iskemia (77%), penurunan kadar  malondialdehid dan peningkatan GSH, aktivitas katalase dan SOD menjadi normal.
    Timokuinon secara efektif memproteksi tikus dari kerusakan otak depan akibat induksi iskemia.(27)
b. Aktivitas pada fungsi kognitif

  • Uji aktivitas kapsul serbuk biji jinten hitam dosis 500 mg dua kali sehari selama 9 minggu pada 10 sukarelawan lansia menunjukkan perbedaan yang signifikan  (p<0,05) pada beberapa tes neuropsikologi yang terdiri dari tes daya ingat, atensi dan kognisi. Hasil tes daya ingat dengan logical memory test I dan II masing-masing meningkat sebesar 13,5 dan 14,7%; hasil skor total digit span test (tes kemampuan verbal) meningkat masing-masing sebesar 9,2; sedangkan hasil uji 30 min Recall (Rey-Osterrieth complex figure test/uji daya ingat) meningkat  sebesar 20,9% dibandingkan dengan data baseline. Hasil tes atensi menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan pada letter cancellation test lebih baik sebesar 3,2% dan trail making test A dan B lebih singkat masing-masing sebesar 6,3
  • dan 3,6% dibandingkan dengan data baseline. Hasil tes kognisi menunjukkan bahwa hasil stroop test lebih baik sebesar 10,6% dibandingkan dengan data baseline. Kelompok plasebo tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan data baseline. Hasil ini menunjukkan potensi penggunaan jinten hitam untuk meningkatkan daya ingat, atensi dan kemampuan belajar.(28)
  • c. Aktivitas antikonvulsan
    Pengujian potensi aktivitas anti konvulsan minyak jinten hitam terhadap mencit yang diinduksi kejang dengan injeksi pentilentetrazol (PTZ) (35 mg/kg BB, i.p.). Pemberian minyak jinten hitam (12 mL/kg BB, peroral) selama 24 hari mampu
    menurunkan intensitas keparahan kejang secara signifikan (p<0,001)  dibandingkan kontrol negatif. Minyak jinten hitam menunjukkan potensi sebagai anti konvulsan melalui kemampuannya dalam menghancurkan radikal bebas  terutama di susunan saraf pusat.(29)

Aktivitas antitukak lambung

  • Jinten hitam dosis 500 mg/kg BB dan timokuinon dosis 10 mg/kg BB peroral pada tikus Wistar (n=10) yang diinduksi tukak lambung dengan alkohol menunjukkan penurunan sel mast, luas area tukak, kadar histamin lambung dan penurunan mieloperoksidase secara signifikan dibandingkan kontrol negatif (p<0,01). Hal ini menunjukkan bahwa biji jinten hitam dan timokuinon mampu menunjukkan potensi gastroprotektif melalui mekanisme antiperoksidase, antioksidan dan antihistamin.(30)
  • Timokuinon dosis 10 dan 20 mg/kg BB diberikan secara intravena pada tikus, setelah 30 menit kemudian dilakukan pyloric ligation, diikuti iskemia selama 30 menit berikutnya serta reperfusi selama 120 menit. Hasilnya menunjukkan terjadinya penurunan sekresi musin lambung, glutation, nitrit oksida total dan superoksid dismutase. Pada dosis tinggi, timokuinon mampu memperbaiki  parameter gastroprotektif yang berubah sebanding dengan omeprazol, dan pada dosis rendah dengan kombinasi omeprazol menunjukkan efek sinergis. Hal ini menunjukkan timokuinon memiliki potensi gastroprotektif melalui mekanisme inhibisi pompa proton, sekresi asam dan infiltrasi neutrofil, serta menaikkan sekresi musin dan produksi nitrit oksida.(31)

Aktivitas hepatoprotektif

  • Minyak biji jinten hitam dosis 0,2 mL/kg BB/hari selama 60 hari secara  intraperitoneal pada tikus Wistar (n=14) yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4) mencegah peningkatan malondialdehid (MDA) dan enzim di liver serta mencegah penurunan aktivitas antioksidan secara signifikan (p<0,05).(32)
  • Minyak biji jinten hitam dosis 100 mg/kg BB peroral selama 60 hari pada tikus jantan albino (n=10) yang diinduksi liver injury dengan malathion menunjukkan perbaikan fungsi liver, enzim lipid peroksidase, dan enzim antioksidan (katalase (CAT), superoksid dismutase (SOD), glutation peroksidase (GPx) dan lipid peroksidase) secara signifikan (p<0,05) dibandingkan kontrol. Pemberian ekstrak  yang sama selama 60 hari pada 15 pekerja yang terpapar pestisida menunjukkan hasil yang sama.(33)
  • Ekstrak air biji jinten hitam dosis 500 mg/kg BB dan ekstrak n-heksan biji jinten hitam dosis 5 mL/kg BB yang diberikan secara peroral selama 28 hari pada tikus galur Long-Evans Norwegian yang diinduksi liver injury dengan parasetamol secara signifikan menurunkan konsentrasi alanin transminase (ALT) serum (49,46 dan 54,49%) dan hepatik MDA (35,57 dan 37,12%) serta menaikkan konsentrasi glutation (GSH) (40 dan 59,54%).(34)
  • Ekstrak air biji jinten hitam 10% yang diberikan peroral selama 28 hari pada  tikus Wistar sebelum atau sesudah induksi liver injury dengan CCl4 mampu menurunkan tingkat enzim aspartat transaminase (AST), ALT, alkalin fosfatase (ALP), asam fosfatase, dan laktat dehidrogenase (LDH) hingga mendekati normal; meningkatkan enzim GSH sel dan enzim antioksidan (SOD, CAT, glutation peroksidase, dan glutation reduktase); serta menginhibisi MDA secara signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif (p<0,01).(35)
  • Pemberian ekstrak biji jinten hitam dosis 250 dan 500 mg/kg BB peroral selama 28 hari pada tikus Wistar jantan (n=8) yang diinduksi liver injury dengan rifampisin mampu menurunkan tingkat ALP, SGPT, SGOT, bilirubin serum dan MDA liver; 
    meningkatkan tingkat SOD, CAT dan GSH; serta melindungi terjadinya perubahan histopatologi liver akibat pemberian rifampisin.(36)

Aktivitas antidiabetes

  • Ekstrak air biji jinten hitam konsentrasi 0,1 pg/mL hingga 100 ng/mL pada jejunum tikus terisolasi mampu menghambat transport glukosa tergantung natrium hingga 80% dengan IC50 10 pg/mL, sedangkan pemberian ekstrak air biji jinten hitam dosis 200 mg/kg BB/hari peroral pada permulaan tes toleransi glukosa dan setelah 6 minggu pemberian ekstrak pada tikus Sprague Dawley menunjukkan perbaikan toleransi glukosa serta mampu menurunkan berat badan tanpa efek toksik dibandingkan dengan kontrol negatif (p<0,05).(37)
  • Ekstrak etanol biji jinten hitam dosis 300 mg/kg BB/ hari peroral pada tikus putih jantan Wistar (n=8) yang diinduksi diabetes dengan streptozotosin selama 30 hari menunjukkan kenaikan signifikan berat badan (33,5%) dan berat liver (41,3%), serta penurunan berat ginjal sebesar 15,7% dibandingkan tikus normal. Pemberian ekstrak juga menurunkan kadar glukosa darah, profil lemak darah,  kadar peroksidase jaringan liver dan ginjal, meningkatkan kadar insulin darah, serta meningkatkan aktivitas enzim SOD, CAT, GPx, dan GSH secara signifikan (p<0,05) dibandingkan tikus diabetes.(38)
  • Minyak biji jinten hitam dosis 0,20 mL/kg BB/hari yang diberikan secara  intraperitoneal selama 30 hari pada tikus jantan Wistar (n=25) yang diinduksi diabetes dengan injeksi streptozotosin menunjukkan penurunan glukosa darah (p<0,001), kenaikan konsentrasi insulin darah (p<0,05), serta terjadinya proliferasi/ perbaikan pada sebagian jaringan sel β pankreas.(39)
  • Minyak biji jinten hitam dosis 0,2 mL/kg BB/hari yang diberikan peroral selama 4 minggu pada tikus yang diinduksi diabetes dengan injeksi streptozotosin menunjukkan peningkatan kadar insulin dan jumlah sel β pankreas, sekresi vesikel dengan granul, dan berkurangnya kerusakan mitokondria pada sel β pankreas.(40)
  • Pemberian masing-masing ekstrak air biji jinten hitam 5% dosis 2 mL/kg BB,  minyak biji jinten hitam dosis 0,2 mL/kg BB, dan timokuinon 3 mg/mL secara intraperitoneal 6 hari/ minggu selama 30 hari pada tikus yang diinduksi diabetes
    dengan induksi streptozotosin menunjukkan penurunan MDA dan glukosa  serum, serta meningkatkan insulin serum dan SOD. Timokuinon mampu memperbaiki efek toksik streptozotosin termasuk agregasi nukleoli,  heterokromatin, vakuolisasi dan fragmentasi mitokondria, sedangkan ekstrak air jinten hitam juga memiliki efek yang sama tetapi dengan aktivitas yang lebih lemah. Minyak biji jintan hitam mampu mengembalikan insulin ke tingkat normal, tapi tidak mampu menurunkan konsentrasi glukosa serum ke tingkat normal.(41)
  • Uji klinis pemberian serbuk biji jinten hitam dosis 2 g/hari selama 3 bulan pada 94 pasien diabetes mellitus tipe 2 menunjukkan penurunan glukosa darah puasa pada minggu ke 4, 8 dan 12 sebesar 45, 62 dan 56 mg/dL; terjadi penurunan glukosa darah 2 jam setelah makan, dan hemoglobin terglikosilasi (HbA1c) sebesar 1,52% pada akhir penelitian.(42)

Aktivitas antifertilitas

  • Pemberian ekstrak heksan biji jinten hitam dosis 2 g/kg BB peroral pada hari 1-10 sesudah kawin dapat mencegah kehamilan pada tikus Sprague Dawley. Aktivitas antiimplantasi juga diamati pada fraksi dan subfraksi. Pada dosis kontrasepsi, ekstrak heksana menunjukkan aktivitas uterotropik (kerusakan uterus) ringan yang sebanding dengan etinilestradiol dosis 0,002 mg/kg BB, tapi tanpa ada efek estrogenik (menurunnya kadar estrogen) pada tikus dewasa.(43)
  • Aktivitas pada gangguan menopause
    Pelet biji jinten hitam dosis 300, 600 dan 1200 mg/kg BB yang diberikan secara peroral selama 21 hari pada ovariectomized rats menunjukkan adanya peningkatan berat uterus dan tingkat estrogen, serta pada pemeriksaan histopatologi terlihat adanya proliferasi kelenjar endometrial, hiperplasia epitel, dilatasi lumen dan penambahan jumlah kelenjar uterus dibandingkan kontrol. Hal ini menunjukkan efek estrogenik biji jinten hitam.(44)
  • Uji klinis secara group sequential, open label dan cross over terhadap biji jinten hitam dosis 1600 mg dua kali sehari pada 69 wanita menopause selama 12 minggu dan  dievaluasi menggunakan kuesioner menunjukkan adanya peningkatan kualitas hidup  wanita menopause baik pada komponen mental, fisik maupun kesehatan secara  umum dibandingkan plasebo.(45)

Aktivitas galaktogogum

  • Uji aktivitas galaktogogum ekstrak air dan etanol biji jinten hitam dosis 0,5 dan 1 g/kg BB/ hari selama 15 hari pada tikus betina menggunakan metode Lompo-Ouedraogo (2004) yang dimodifikasi menunjukkan peningkatan yang signifikan (p<0,001) produksi air susu sebesar 31,3 dan 37,6% dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, selama periode uji, anak tikus yang disusui induk yang diberi kedua ekstrak tersebut memperlihatkan peningkatan berat badan sebesar 36 dan  93,2%.(46)

Aktivitas pada paru-paru dan antiasma

  • Efek ekstrak biji jinten hitam terhadap gangguan asma diuji dengan model mencit terinduksi menjadi asma. Pemberian ekstrak biji jinten hitam dosis 1,2 ; 2,4; dan 4,8 g/kg BB/hari peroral pada mencit (n=10) dimulai 5 hari sebelum induksi asma dengan ovalbumin. Hasil menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan jumlah limfosit TCD4+CD25+FoxP3+ yang dikaitkan dengan peningkatan TGF-b.  Peningkatan TGF-b ini menyebabkan induksi aktivitas T CD4+ melalui limfosit TCD4+CD25+FoxP3+, salah satunya melalui penekanan terhadap growth factor  independent-1 (Gfi-1) yang merupakan transcriptional repressor. Penurunan secara signifikan jumlah limfosit T CD4+ dan T CD8+ terjadi pada dosis 2,4 mg/kg BB/hari, sedangkan efek peningkatan apoptosis limfosit T CD4+ secara signifikan terjadi pada dosis 1,2 mg/kg BB.(47),(48)
  • Minyak biji jinten hitam secara tradisional digunakan untuk mengatasi gangguan asma bronkial. Aktivitas ini diuji dengan pemberian minyak jinten hitam dosis 1 dan 4 mL/kg BB/hari peroral selama 31 hari pada mencit Balb/c yang diinduksi asma dengan ovalbumin menunjukkan penurunan respon berlebihan dari saluran nafas (air way hyperresponsiveness), jumlah total leukosit, makrofage, dan eosinofil; tingkat IL-4, IL-5 dan IL-13 pada BALF; total IgE, OVA-specific IgE dan IgG1 pada serum, yang menunjukkan adanya perbaikan keseimbangan Th1/Th2 lokal. Pada  pemeriksaan histopatologi tidak terlihat adanya kelainan atau perubahan pada  paru-paru. Hal ini menunjukkan potensi aktivitas jinten hitam sebagai anti asma.(49)
  • Kondisi hiperoksia dipercaya mendorong terjadinya displasia bronkopulmoner pada bayi dan minyak jinten hitam diuji pengaruhnya terhadap kondisi tersebut. Minyak jinten hitam dosis 4 mL/kg BB/hari diberikan secara intraperitoneal pada tiga kelompok tikus Sprague Dawley yang baru lahir, meliputi kelompok hiperoksia (O2 95%),  hiperoksia+minyak biji jinten hitam dan kontrol (O2 21%). Pemberian minyak jinten hitam (kelompok 2) menunjukkan penurunan lesi jaringan dan mempertahankan sel paru-paru secara signifikan (p<0,05). Analisis biokimia juga memperlihatkan peningkatan aktivitas antioksidan, pengurangan tingkat oksidan dan penurunan inflamasi akibat peroksida lipid dan infiltrasi neutrofil pada jaringan paru-paru yang rusak oleh hiperoksia.(50)

Aktivitas pada sistem kardiovaskular

  • Pemberian biji jinten hitam peroral dosis 800 mg/kg BB sekali sehari selama 60 hari terhadap 50 ekor tikus Wistar dilakukan untuk menilai fungsi jantung secara in vitro (model Langendorff) dan in vivo. Hasilnya diperoleh peningkatan aliran darah keotot jantung dan kontraktilitas otot jantung (P<0,005) tanpa disertai adanya peningkatan denyut jantung dan tekanan darah (p<0,05). Hal ini menunjukkan jinten hitam dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi otot jantung tanpa menambah beban jantung.(51)

Aktivitas nefroprotektif

  • Iskemia ginjal yang diikuti oleh reperfusi membawa kepada kegagalan ginjal akut. Ekstrak etanol 70% biji jinten hitam dosis 150 dan 300 mg/kg BB via jugular catheter yang diberikan pada tikus jantan Wistar (n=8) sebelum (kelompok uji preventif) dan setelah (kelompok uji pengobatan) induksi perlukaan ginjal dengan iskemia atau reperfusi dilakukan untuk mengetahui fungsi ginjal. Kelompok preventif dan pengobatan dosis 300 mg/kg BB memperlihatkan penurunan kadar kreatinin dan urea serum secara signifikan dibanding kelompok kontrol tikus iskemia. Hasil menunjukkan adanya potensi aktivitas perlindungan ekstrak etanol jinten hitam terhadap kerusakan ginjal akut yang diinduksi iskemia/reperfusi.(52)
  • Pengujian ekstrak etanol biji jinten hitam dosis 250 mg/kg BB peroral pada tikus Wistar (n=8) yang mengalami induksi pembentukan batu ginjal dengan etilen glikol 1% yang masingmasing diberikan mulai pada hari ke-0 (kelompok pencegahan) dan hari ke-14 (kelompok pengobatan) dari 30 hari pemberian etilen glikol menunjukkan penurunan jumlah maupun ukuran kalsium oksalat di tubulus ginjal serta penurunan konsentrasi kalsium oksalat pada urin. Hasil ini juga menunjukkan bahwa efek pencegahan lebih baik daripada efek penyembuhan.(53)
  • Pemberian minyak jinten hitam dosis 0,3 dan 0,6 mL/kg BB peroral selama 7 hari pada tikus jantan Wistar (n=5) yang diberikan sebelum ataupun sesudah perlukaan ginjal yang diinduksi dengan iskemia/reperfusi, mampu menurunkan kadar nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin; meningkatkan aktivitas enzim SOD dan GSH-Px serum, dan aktivitas enzim CAT, SOD dan GSH-Px jaringan. Minyak biji jinten hitam juga menurunkan jumlah oksidan total serta menaikkan kapasitas antioksidan total; serta menurunkan MDA, NO dan protein karbonil pada serum dan jaringan. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian minyak biji jinten hitam, baik sebelum maupun sesudah induksi dengan  iskemia/reperfusi, mampu melindungi ginjal dari kerusakan.(54)
  • Gentamisin merupakan antibakteri Gram negatif yang efektif, tetapi  penggunaannya dibatasi oleh efek samping berbahaya berupa gagal ginjal akut. Minyak jinten hitam dosis 0,2 dan 0,4 mL/kg BB yang diberikan pada tikus Wistar (n=6) secara intraperitoneal 1 jam sebelum induksi nefrotoksik dengan gentamisin sulfat selama 6 hari menunjukkan penurunan tingkat kreatinin dan urea plasma yang signifikan; penurunan tingkat MDA dan NO; peningkatan aktivitas GSH-Px dan SOD dibandingkan kontrol gentamisin sulfat.(55)

Aktivitas sitotoksik dan antitumor

  • Uji sitotoksisitas ekstrak air biji jinten hitam pada sel HepG2 dengan metode MTT dan sulphorhodamine (SRB) menunjukkan nilai ED50 sebesar 6 dan 7 mg/mL. Ekstrak pada dosis 3 mg/mL menunjukkan 50% penghambatan sintesis DNA.(56)
  • Ekstrak etanol jinten hitam dosis 5.000 μg/mL dalam waktu 72 jam pada kultur sel HepG2 menunjukkan penurunan jumlah sel HepG2 secara signifikan sebesar 37,8% dan jumlah NO serta meningkatkan antioksidan total. Peningkatan dosis jinten hitam akan meningkatkan aktivitas kaspase-3 yang menginduksi terjadinya apoptosis.(57)
  • Ekstrak metanol jinten hitam konsentrasi 125 μL/mL menghambat  pertumbuhan sel kanker (SiHa) sebesar 88,3% dalam waktu 24 jam dengan nilai IC50 adalah 93,2 μL/mL. Ekstrak menginduksi peningkatan ekspresi kaspase-3, -8 dan -9, serta menginduksi apoptosis sel SiHa melalui penghambatan aktivasi enzim p53 dan kaspase.(58)
  • Uji aktivitas timokuinon dosis 5 mg/kg BB/minggu secara intraperitoneal selama 10 minggu pada tikus jantan galur Wistar dimulai pada saat inisiasi dan selama induksi karsinogenesis kolon dengan 20 mg/kg BB 1,2-dimetilhidrazin- (DMH-) secara subkutan sekali seminggu terhadap peroksidasi lipid eritrosit dan kapasitas antioksidan menunjukkan bahwa pra-perlakuan dengan timokuinon  mengembalikan peningkatan kadar MDA dan diena terkonjugasi, serta augmentasi aktivitas beberapa enzim seperti CAT, GSH-Px dan SOD diakibatkan paparan DMH. Dari penelitian ini terbukti bahwa timokuinon adalah senyawa yang memegang peranan penting dalam mencegah kerusakan eritrosit yang diakibatkan oleh induksi DMH.(59)

Aktivitas imunomodulator

  • Uji in vitro dengan metode JAM menunjukkan ekstrak air jinten hitam dosis 50 dan 100 μg/mL mampu menginduksi lisis sel limfoma YAC-1 secara tidak langsung melalui peningkatan aktivitas ketoksikan sel NK sebesar 3 dan 4,5 kali lipat.(60)

Data Toksisitas :
  • Uji toksisitas akut ekstrak air dan etanol biji jinten hitam dosis 0,5; 2; 8; 16 dan 32 g/kg BB peroral pada mencit jantan dan betina albino tidak menunjukkan adanya kematian pada pengamatan selama 48 jam. LD50 ekstrak air dan etanol biji jinten hitam secara intraperitoneal sebesar 4,23 dan 4,9 g/kg BB.(46)
  • Uji toksisitas subkronis serbuk biji jinten hitam yang diberikan bersama makanan terhadap fungsi hati pada tikus jantan galur Sprague Dawley (n=6) dosis 0,01; 0,1 dan 1 g/kg BB/ hari selama 28 hari tidak menunjukkan perubahan yang signifikan pada parameter fungsi hati ALT dan AST. Pengamatan histopatologi menunjukkan perubahan yang sangat minimal dan ringan dalam hal degenerasi lemak pada dosis 0,1 dan 1 g/kg BB/hari. Tidak dijumpai adanya inflamasi dan nekrosis.(61)
  • Uji toksisitas subkronis fixed oil jinten hitam dosis 2 mL/kg BB/ hari peroral selama 12 minggu pada tikus dengan pengamatan terhadap parameter biokimia menunjukkan tidak terjadi peningkatan secara signifikan enzim hati, namun terjadi
    penurunan secara signifikan kadar kolesterol, trigliserida dan glukosa dibandingkan dengan kontrol (p<0,05). Pada pengamatan parameter hematologi, leukosit dan hitung jumlah platelet menurun secara signifikan (p<0,01), sedangkan kadar hematokrit dan hemoglobin meningkat secara signifikan (p<0,05).(62)
Daftar Pustaka :
  1. Ipor IB, Oyen LP. Nigella sativa L. In: de Guzman, C C, Siemonsma JS, editors. Plant Resources of South-East Asia. No. 13: Spices. Leiden: Backhuys Publisher; 1999. p. 148–51 .
  2. The Integrated Taxonomic Information System (ITIS). Nigella sativa L. : Taxonomic Serial No.: 506592: Taxonomic Serial No.: 506592. Available from: URL:http://www.itis.gov./servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=506592.
  3. Ahmad A, Husain A, Mujeeb M, Khan SA, Najmi AK, Siddique NA et al. A review on therapeutic potential of Nigella sativa: A miracle herb. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine 2013; 3(5):337–52.
  4. Al-Jassir, M. Saleh. Chemical composition and microflora of black cumin (Nigella sativa L.) seeds growing in Saudi Arabia. Food Chemistry 1992; 45(4):239–42. Available from: URL:http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/030881469290153S.
  5. Atta-Ur-Rahman, Malik S, Hasan, S. Sadiq, Choudhary, M. Iqbal, Ni C, Clardy J. Nigellidine — A new indazole alkaloid from the seeds of Nigella sativa.  Tetrahedron Letters 1995; 36(12):1993–6. Available from: URL:http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/0040403995002104.
  6. Merfort I, Wray V, Barakat, H. H., Hussein, S. A. M., Nawwar, M. A. M., Willuhn G. Flavonol triglycosides from seeds of Nigella sativa. Phytochemistry 1997; 46(2):359–63. Available from: URL:http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0031942297002963.
  7. Gali-Muhtasib H, El-Najjar N, Schneider-Stock R. The medicinal potential of black seed (Nigella sativa) and its components. In: Mahmud T.H. Khan and Arjumand Ather, editor. Advances in Phytomedicine: Lead Molecules from Natural Products Discovery and New Trends: Elsevier; 2006. p. 133–53 Available from: URL:http://www.sciencedirect. com/science/article /pii/S1572557X05020088.
  8. Ali Z, Ferreira D, Carvalho P, Avery MA, Khan IA. Nigellidine-4-O-sulfite, the First Sulfated Indazole-Type Alkaloid from the Seeds of Nigella sativa. J. Nat. Prod. 2008; 71(6):1111–2.
  9. Morikawa T, Ninomiya K, Xu F, Okumura N, Matsuda H, Muraoka O et al. Acylated dolabellane-type diterpenes from Nigella sativa seeds with triglyceride metabolismpromoting activity in high glucose-pretreated HepG2 cells. Phytochemistry Letters 2013; 6(2):198–204.
  10. Hannan A, Saleem S, Chaudhary S, Barkaat M, Arshad MU. Anti bacterial activity of Nigella sativa against clinical isolates of methicillin resistant  Staphylococcus aureus. J Ayub Med Coll Abbottabad 2008; 20(3):72–4.
  11. Nazir S, Latif Z. Screening of natural extracts for their antibacterial activity against different enteric pathogens isolated from soil, water and rotten fruit samples. Afr. J. Biotechnol. 2012; 11(73).
  12. Harzallah JH, Kouidhi B, Flamini G, Bakhrouf A, Mahjoub T. Chemical composition, antimicrobial potential against cariogenic bacteria and cytotoxic activity of Tunisian Nigella sativa essential oil and thymoquinone. Food  Chemistry 2011; 129(4):1469–74.
  13. Chaieb K, Kouidhi B, Jrah H, Mahdouani K, Bakhrouf A. Antibacterial  activity of Thymoquinone, an active principle of Nigella sativa and its potency to prevent bacterial biofilm formation. BMC Complement Altern Med 2011;  11:29.
  14. Piras A, Rosa A, Marongiu B, Porcedda S, Falconieri D, Dessì, M. A. et al. Chemical composition and in vitro bioactivity of the volatile and fixed oils of Nigella sativa L. extracted by supercritical carbon dioxide. Industrial Crops and Products 2013; 46:317–23.
  15. Rogozhin EA, Oshchepkova YI, Odintsova TI, Khadeeva NV, Veshkurova ON, Egorov TA et al. Novel antifungal defensins from Nigella sativa L. seeds. Plant Physiology and Biochemistry 2011; 49(2):131–7.
  16. Barakat, Eman Mahmoud Fathy, El Wakeel, Lamia Mohamed, Hagag RS. Effects of Nigella sativa on outcome of hepatitis C in Egypt. World J  Gastroenterol 2013; 19(16):2529–36.
  17. Mariod AA, Ibrahim RM, Ismail M, Ismail N. Antioxidant activity and  phenolic content of phenolic rich fractions obtained from black cumin (Nigella sativa) seedcake. Food Chemistry 2009; 116(1):306–12.
  18. Umar S, Zargan J, Umar K, Ahmad S, Katiyar CK, Khan HA. Modulation of the oxidative stress and inflammatory cytokine response by thymoquinone in the collagen induced arthritis in Wistar rats. Chem Biol Interact 2012; 197(1):40–6.
  19. Alemi M, Sabouni F, Sanjarian F, Haghbeen K, Ansari S. Antiinflammatory effect of seeds and callus of Nigella sativa L. extracts on mix glial cells with regard to their thymoquinone content. AAPS PharmSciTech 2013;  14(1):160–7.
  20. Bourgou S, Pichette A, Marzouk B, Legault J. Antioxidant, Anti-Inflammatory, Anticancer And Antibacterial Activities Of Extracts From Nigella sativa (Black Cumin) Plant Parts. Journal of Food Biochemistry 2012; 36(5):539–46. Available from: URL:http://dx.doi.org/10.1111/j.1745-4514.2011.00567.x.
  21. Chehl N, Chipitsyna G, Gong Q, Yeo CJ, Arafat HA. Antiinflammatory effects of the Nigella sativa seed extract, thymoquinone, in pancreatic cancer cells. HPB (Oxford) 2009; 11(5):373–81.
  22. Abdel-Fattah, A. M., Matsumoto K, Watanabe H. Antinociceptive effects of Nigella sativa oil and its major component, thymoquinone, in mice. Eur J Pharmacol 2000; 400(1):89–97.
  23. Al-Ghamdi, M. S. The anti-inflammatory, analgesic and antipyretic activity of Nigella sativa. J Ethnopharmacol 2001; 76(1):45–8.
  24. Boskabady MH, Vahedi N, Amery S, Khakzad MR. The effect of Nigella sativa alone, and in combination with dexamethasone, on tracheal muscle responsiveness and lung inflammation in sulfur mustard exposed guinea pigs. Journal of Ethnopharmacology 2011; 137(2):1028–34.
  25. Gheita TA, Kenawy SA. Effectiveness of Nigella sativa oil in the management of rheumatoid arthritis patients: a placebo controlled study. Phytother Res 2012; 26(8):1246–8.
  26. Javanbakht J, Hobbenaghi R, Hosseini E, Bahrami, A. M., Khadivar F, Fathi S et al. Histopathological investigation of neuroprotective effects of Nigella sativa on motor neurons anterior horn spinal cord after sciatic nerve crush in rats. Pathologie Biologie 2013.
  27. Al-Majed AA, Al-Omar FA, Nagi MN. Neuroprotective effects of thymoquinone against transient forebrain ischemia in the rat hippocampus. European Journal of Pharmacology 2006; 543(1-3):40–7.
  28. Bin Sayeed, Muhammad Shahdaat, Asaduzzaman M, Morshed H, Hossain MM, Kadir MF, Rahman MR. The effect of Nigella sativa Linn. seed on memory, attention and cognition in healthy human volunteers. Journal of Ethnopharmacology 2013; 148(3):780–6.
  29. Ilhan A, Gurel A, Armutcu F, Kamisli S, Iraz M. Antiepileptogenic and antioxidant effects of Nigella sativa oil against pentylenetetrazol-induced kindling in mice. Neuropharmacology 2005; 49(4):456–64.
  30. Kanter M, Coskun O, Uysal H. The antioxidative and antihistaminic effect of Nigella sativa and its major constituent, thymoquinone on ethanol-induced gastric mucosal damage. Arch Toxicol 2006; 80(4):217–24.
  31. Magdy M, Hanan E, Nabila E. Thymoquinone: Novel gastroprotective mechanisms. Eur J Pharmacol 2012; 697(1-3):126–31.
  32. Kanter M, Coskun O, Budancamanak M. Hepatoprotective effects of Nigella sativa L and Urtica dioica L on lipid peroxidation, antioxidant enzyme systems and liver enzymes in carbon tetrachloride-treated rats. World J Gastroenterol 2005; 11(42):6684–8.
  33. El-Gharieb MA, El-Masry TA, Emara AM, Hashem MA. Potential hepatoprotective effects of vitamin E and Nigella sativa oil on hepatotoxicity induced by chronic exposure to malathion in human and male albino rats. Toxicological & Environmental Chemistry 2010; 92(2):391–407. Available from: URL:http://dx.doi.org/10.1080/02772240902955719.
  34. Yesmin F, Rahman Z, Dewan JF, Helali AM, Rahman, Nor Iza A, Alattraqchi AG et al. Hepato-protective role of the aqueous and n-hexane extracts of Nigella sativa linn. in experimental liver damage in rats. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research 2013; 6(3).
  35. Krishnan N, Muthukrishnan S. Effect of Nigella sativa seed extract on carbon tetrachloride-induced hepatotoxicity in rats. Journal of Acute Medicine 2012; 2(4):107–13.
  36. Kushwah DS, Salman MT, Singh HK, Ahmad A, verma VK. In vivo Hepatoprotective Potential of Nigella sativa Extract Against Rifampicin Induced Sub-chronic Hepatotoxicity and Altered Redox Status. Journal of Biologically Active Products from Nature 2012; 2(3):167–77. Available from: URL:http://dx.doi.org/10.1080/22311866.2012.10719124.
  37. Meddah B, Ducroc R, El Abbes Faouzi, Moulay, Eto B, Mahraoui L, Benhaddou-Andaloussi A et al. Nigella sativa inhibits intestinal glucose absorption and improves glucose tolerance in rats. Journal of  Ethnopharmacology 2009; 121(3):419–24.
  38. Kaleem M, Kirmani D, Asif M, Ahmed Q, Bano B. Biochemical effects of Nigella sativa L seeds in diabetic rats. Indian J Exp Biol 2006; 44(9):745–8.
  39. Kanter M, Meral I, Yener Z, Ozbek H, Demir H. Partial regeneration/proliferation of the beta-cells in the islets of Langerhans by Nigella sativa L. in streptozotocin-induced diabetic rats. Tohoku J Exp Med 2003; 201(4):213–9.
  40. Kanter M, Akpolat M, Aktas C. Protective effects of the volatile oil of Nigella sativa seeds on beta-cell damage in streptozotocin-induced diabetic rats: a light and electron microscopic study. J Mol Histol 2009;  40(5-6):379–85.
  41. Abdelmeguid NE, Fakhoury R, Kamal SM, Al Wafai, Rana J. Effects of Nigella sativa and thymoquinone on biochemical and subcellular changes in pancreatic beta-cells of streptozotocin-induced diabetic rats. J Diabetes 2010;
  42. 2(4):256–66.
  43. Bamosa AO, Kaatabi H, Lebdaa FM, Elq AA, Al-Sultanb A. Effect of Nigella sativa seeds on the glycemic control of patients with type 2 diabetes mellitus.  Indian J Physiol Pharmacol 2010; 54(4):344–54.
  44. Keshri G, Singh, M. M., Lakshmi V, Kamboj, V. P. Post-coital contraceptive efficacy of the seeds of Nigella sativa in rats. Indian J Physiol Pharmacol 1995; 39(1):59–62.
  45. Parhizkar S, Latiff LA, Sabariah AR, Dollah MA, Hassan, S T S, Hanachi P et al. Evaluation of the estrogenic effect of Nigella sativa using the rat models of uterotrophic assay. Maturitas 2009; 63(1):S1–S136.
  46. Latiff LA, Parhizkar S, Ghazali MN, Dollah MA. Improvement of perimenopausal quality of life following Nigella sativa supplementation: results of a pilot, open-label, crossover trial. Maturitas 2012; 71:S59.
  47. Hosseinzadeh H, Tafaghodi M, Mosavi MJ, Taghiabadi E. Effect of Aqueous and Ethanolic Extracts of Nigella sativa Seeds on Milk Production in Rats. Journal of Acupuncture and Meridian Studies 2013; 6(1):18–23.
  48. Chandra Kusuma, H. M. S., Barlianto W, Aris Widodo M, Suharto S. Crude extract of black seed (Nigella sativa) can modulate T CD4+ and CD8+ lymphocytes in asthmatic mouse model. Papers and Abstracts of the 11th International Congress on Pediatric Pulmonology 2012; 13, Supplement 1(0):S55. Available from: URL:http://www.sciencedirect. com/science/article/pii/S1526054212700696.
  49. Barlianto W, Chandra Kusuma, H M S, Aris Widodo M, Suharto S. Crude extract of black seed (Nigella sativa) can modulate T CD4+CD25+FoxP3+ lymphocytes in asthmatic mouse model. Papers and Abstracts of the 11th International Congress on Pediatric Pulmonology 2012; 13, Supplement 1(0):S54. Available from: URL:http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1526054212700684.
  50. Balaha MF, Tanaka H, Yamashita H, Abdel Rahman, Mohamed Nabih, Inagaki N. Oral Nigella sativa oil ameliorates ovalbumin-induced bronchial asthma in mice. International Immunopharmacology 2012; 14(2):224–31.
  51. Tayman C, Cekmez F, Kafa IM, Canpolat FE, Cetinkaya M, Tonbul A et al. Protective Effects of Nigella sativa Oil in Hyperoxia-Induced Lung Injury. Arch Bronconeumol 2013; 49(1):15–21.
  52. Yar T, El-Hariri M, El-Bahai, M. N., Bamosa, A. O. Effects of Nigella sativa supplementation for one month on cardiac reserve in rats. Indian J Physiol Pharmacol 2008; 52(2):141–8.
  53. KhajaviRad A, Havakhah S, Hajzadeh M, Roshan Naama M, Sadeghnia HR, Moharreri N et al. Acute effects of Nigella-Sativa ethanolic-aqueous extract on serum parameters in renal ischemic-reperfusion model in the rat. Clinical Biochemistry 2011; 44(13):S39.
  54. Hadjzadeh M, Khoei A, Hadjzadeh Z, Parizady M. Ethanolic extract of Nigella sativa L seeds on ethylene glycol-induced kidney calculi in rats. Urol J 2007; 4(2):86–90.
  55. Bayrak O, Bavbek N, Karatas, O. F., Bayrak R, Catal F, Cimentepe E et al. Nigella sativa protects against ischaemia/reperfusion injury in rat kidneys. Nephrology Dialysis Transplantation 2008; 23(7):2206–12.
  56. Yaman İ, Balikci E. Protective effects of Nigella sativa against gentamicin-induced nephrotoxicity in rats. Experimental and Toxicologic pathology 2010; 62(2):183–90.
  57. Thabrew, M. Ira, Mitry RR, Morsy MA, Hughes RD. Cytotoxic effects of a decoction of Nigella sativa, Hemidesmus indicus and Smilax glabra on human hepatoma HepG2 cells. Life Sciences 2005; 77(12):1319–30.
  58. Hassan, M. I., Mabrouk, G. M., Shehata, H. H., Aboelhussein, M. M. Antineoplastic Effects of Bee Honey and Nigella sativa on Hepatocellular Carcinoma Cells. Integrative Cancer Therapies 2012; 11(4):354–63.
  59. Hasan TN, Shafi G, Syed NA, Alfawaz MA, Alsaif MA, Munshi A et al. Methanolic extract of Nigella sativa seed inhibits SiHa human cervical cancer cell proliferation through apoptosis. Nat Prod Commun 2013; 8(2):213–6.
  60. Harzallah HJ, Grayaa R, Kharoubi W, Maaloul A, Hammami M, Mahjoub T. Thymoquinone, the Nigella sativa bioactive compound, prevents circulatory oxidative stress caused by 1,2-dimethylhydrazine in erythrocyte during colon postinitiation carcinogenesis. Oxid Med Cell Longev 2012; 2012:854065.
  61. Majdalawieh AF, Hmaidan R, Carr RI. Nigella sativa modulates splenocyte proliferation, Th1/Th2 cytokine profile, macrophage function and NK  anti-tumor activity. Journal of Ethnopharmacology 2010; 131(2):268–75.
  62. Dollah MA, Parhizkar S, Latiff LA, Bin Hassan, Mohamad Hafanizam. Toxicity Effect of Nigella Sativa on the Liver Function of Rats. Advanced Pharmaceutical Bulletin 2013; 3(1):97–102.
  63. Zaoui A, Cherrah Y, Mahassini N, Alaoui K, Amarouch H, Hassar M. Acute and chronic toxicity of Nigella sativa fixed oil. Phytomedicine 2002; 9(1):69–74.
  64. DerMarderosian A, Beutler JA. The review of natural products: The most complete source of natural product information: The most complete source of natural product information. 5th ed. Saint Louis, Mo: Wolters Kluwer Health; [London : Lippincott Williams & Wilkins Europe; 2008.
  65. Ali B, Amin S, Ahmad J, Ali A, Mir SR. Bioavailability enhancement studies of amoxicillin with Nigella. Indian J Med Res 2012; 135(4):555–9.



MANGGIS, Potensi Manfaatnya Untuk Kesehatan

Posted by Obat PenawarKu On 02.47 | No comments


MANGGIS (Garcinia mangostana L.)

Aktifitas biologi manggis yang telah diteliti al:

Antioksidan

  • Ekstraksi kulit kering buah manggis dengan alat Soxhlet menggunakan pelarut etanol 50% menghasilkan ekstrak dengan jumlah senyawa fenolik total sebesar 26,96 g ekivalen asam galat/100 g ekstrak dan tanin total sebesar 46,83 g ekivalen asam tanat/100 g ekstrak, memperlihatkan aktivitas DPPH-scavenging yang paling efektif dengan nilai EC50 112,84 μg/mL.15
  • Ekstrak kulit buah manggis yang dipisahkan menjadi delapan fraksi, empat fraksi dengan ekstraksi pelarut berturut-turut: heksan (FH); petroleum eter (FP); etil asetat (FE); dan air (FA), sedangkan empat fraksi lainnya dengan fraksinasi menggunakan kolom Sephadex LH-20 berturut-turut dinamakan fraksi (F1, F2, F3, dan F4). Senyawa fenolik diidentifikasi sebagai komponen antioksidan utama dalam setiap fraksi. Berdasarkan data hasil spektrum UV-VIS, HPLC-ESI-MS fase terbalik ditambah dengan tiolisis, HPLC-ESI-MS fase normal dan MALDI-TOFMS menunjukkan bahwa fraksi fenolik kaya akan kandungan tanin dengan struktur heterogen pada unit monomer, derajat polimerisasi dan ikatan antar flavan. Kandungan dalam manggis didominasi oleh tanin yang mengandung prosianidin dengan sejumlah besar pro-pelargonidin dan sedikit pro-delphinidin. Kandungan eikosapentamer dari tanin terkondensasi terdeteksi oleh MALDI-TOF-MS. Fraksi tanin terkondensasi dari kulit buah manggis yang banyak terdapat didalam fraksi F3 dan FE, sangat potensial dikembangkan sebagai sumber makanan yang menguntungkan karena hasil rendemen yang tinggi dan sifat antioksidannya kuat.14
  • Uji antioksidan menggunakan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) free-radical scavenging, hydroxyl radical-scavenging, dan penghambatan lipid peroksidasi, ekstrak air kulit buah manggis menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak metanol dan ekstrak heksan. Bila ditambahkan secara bersamaan dengan hidrogen peroksida (200 μM) ke dalam sel-sel keratinosit, ekstrak air (50 μg/mL), epikatekin (200 μM), dan tanin (200 μM) efektif melindungi sel dari kerusakan oksidatif, tetapi untuk ekstrak metanol, ekstrak heksan, dan α-mangostin tidak efektif. Ekstrak metanol dan ekstrak heksan menunjukkan aktivitas sitotoksik sedang pada sel keratinosit (dengan IC50 masing-masing 72 μg/mL dan 30 μg/mL), sedangkan α-mangostin menunjukkan aktivitas sitotoksik kuat dengan IC50 0,94 μg/mL. Hal ini menunjukkan kemampuan ekstrak air kulit buah manggis sebagai antioksidan dan senyawa sitoprotektif terhadap kerusakan oksidatif, yang kemungkinan disebabkan oleh kandungan senyawa fenoliknya.16
  • Ekstrak kulit buah manggis muda yang mengandung senyawa fenol dan tanin, memiliki aktivitas penangkap radikal bebas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak kulit buah matang. Ekstrak kulit buah matang yang mengandung flavonoid dan α-mangostin, memberikan aktivitas anti jerawat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kulit buah muda.17
  • α-Mangostin mampu menangkap ROS (reactive oxygen species), anion  superoksida dan anion peroksinitrit. Tetapi α-mangostin tidak mampu mengikat radikal hidroksil dan hidrogen peroksida. α-Mangostin mampu menurunkan kematian neuronal yang disebabkan oleh 3-NP (3-nitropropionic acid) pada kultur cerebellar granule neurons (CGNs). Efek ini dikaitkan dengan penurunan dari 3-NP yang merupakan induktor pembentukan ROS.18
  • Kapasitas penangkapan radikal bebas dari α-mangostin dan monoanionnya dianalisis dengan menggunakan pendekatan teori kepadatan fungsional. Menurut teori termodinamika dan kinetika, α-mangostin dalam bentuk terdeprotonasi merupakan penangkap radikal bebas yang baik melalui mekanisme hydrogen atom transfer (HAT), dengan bentuk anionik terdeprotonasi lebih reaktif dibandingkan dengan yang netral. Kapasitas penangkapan radikal bebas hidrogen superoksida mirip dengan karoten, lebih tinggi dari alisin, jauh lebih tinggi  dibandingkan dengan melatonin dan N-asetilsistein amida, dan sekitar 15 kali lebih rendah dari 2-propenesulfonat asam.19
  • Sifat antioksidan 20 senyawa xanton kulit buah manggis dipelajari menggunakan analisa kimia komputasi, berdasarkan mekanisme transfer elektron tunggal (single electron transfer mechanism, SET). Selanjutnya, berdasarkan sifat keasaman yaitu nilai pKa senyawa tersebut, bentuk monoanionik hadir dalam jumlah yang banyak. Perhitungan kimia dilakukan untuk menilai kapasitas penangkap radikal bebas dalam hal energi ionisasi dan afinitas elektron vertikal. Xanton dalam larutan air dapat mendonorkan atau menerima elektron untuk menonaktifkan radikal bebas. Reaksi transfer elektron antara xanton dan anion hidroksil atau oksigen superoksida adalah endergonik, reaksi xanton terdeprotonasi dengan anion hidroksil eksergonik. Dengan demikian, xanton terdeprotonasi lebih reaktif daripada spesi netral melalui mekanisme SET. Monoanion xanton bereaksi dengan anion hidroksil pada kecepatan yang dibatasi laju difusi.20

Antiinflamasi dan antinyeri

  • Menggunakan metode hot-plate dan geliat asetat (acetic acid-induced writhing), ekstrak etanol kulit buah manggis pada mencit galur Chinese Kun Ming secara peroral dosis 0,5; 1, dan 3 g/kg BB menunjukkan efek analgesik menggunakan metode hotplate dan geliat asetat (acetic acid-induced writhing) pada mencit. Dua senyawa hasil isolasi, α- dan γ-mangostin, menunjukkan efek analgesik pada dosis masing-masing 25 dan 50 mg/kg BB menggunakan metode hot-plate dan formalin. Ekstrak etanol dosis 0,5; 1, dan 3 g/kg BB secara signifikan menghambat xyleneinduced release of inflammatory mediators. Ekstrak, α- dan γ-mangostin masing-masing menunjukkan aktivitas penangkapan ROS seirama dengan peningkatan dosis (dose dependent).21
  • Pemberian γ-mangostin, xanton yang diambil dari kulit buah manggis dengan konsentrasi 0,1 μM pada kultur sel neuroblastoma (NG 108-15), secara in vitro dapat meningkatkan ekspresi 5-HT2A/2C, muskarinik mRNA, reseptor histamin dan bradikinin. Hal ini menunjukkan bahwa γ-mangostin berpotensi mengatasi peradangan, nyeri dan gejala neuropsikiatri.22
  • Ekstrak manggis memiliki efek penghambatan terhadap nitrit oksida (NO) dengan nilai IC50 1,0 μg/mL. Senyawa α- dan γ-mangostin memiliki efek penghambatan pelepasan NO dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 3,1 dan 6,0 μM. Ekstrak manggis memiliki efek penghambatan terhadap PGE2 (IC50 = 6.0 μg/mL), sedangkan α-dan γ-mangostin masing-masing sebesar 13,9 dan 13,5 μM. Namun, ekstrak manggis hanya memiliki efek sedang terhadap TNF-α dan IL-4 dengan nilai IC50 berkisar antara 31,8-64,8 μM. Ekstrak manggis dan α-mangostin menekan transkripsi gen pengkode inducible nitric oxide synthase (iNOS) dan siklooksigenase-2 (COX-2), sedangkan γ-mangostin hanya memiliki efek penghambatan pada transkripsi iNOS, sehingga ekstrak kulit buah manggis berpotensi mengatasi peradangan.23

Antimikroba

  • Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA) merupakan patogen nosokomial utama yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di seluruh dunia. Sebanyak 17 tanaman obat  yang diambil dari Thailand diteliti efeknya terhadap MRSA. Manggis merupakan tumbuhan yang paling berpotensi, dan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas ini adalah xanton terprenilasi yaitu α-mangostin, dengan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimal (KBM) berturut-turut sebesar 1,95 dan 3,91 μg/mL.24
  • γ-Mangostin menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA), Staphylococcus aureus, Enterococcus resisten terhadap vankomisin (VRE) dan Enterococcus dengan KHM berturut-turut 3,13; 6,25; 6,25 dan 6,25 μg/mL. Pada percobaan ini, digunakan gentamisin sebagai kontrol positif. Analisis hasil uji hayati menunjukkan bahwa kombinasi dari grup gugus hidroksil C-6 dan C-3 dengan rantai samping prenil pada C-2 dan xanton 1,3,6,7- tetraoxygenated yang diperoleh dari manggis adalah penting untuk mendapatkan aktivitas antibakteri yang tinggi.25
  • α-Mangostin efektif terhadap Candida albicans, dengan KHM dan KBM sebesar 1000 dan 2000 μg/mL. α-Mangostin memiliki aktivitas fungisida lebih rendah daripada klotrimazol (KHM dan KBM 10 dan 20 μg/mL) dan nistatin (KHM dan KBM 160 dan 320 μg/mL). Pada dosis sampai 4000 μg/mL, α-mangostin tidak toksik terhadap jaringan ikat gusi manusia selama 480 menit, sehingga berpotensi dan aman untuk penanganan kandidiasis pada mulut.26

Antijerawat

  • Ekstraksi dengan metode Soxhletasi merupakan metode yang paling efektif untuk mengekstraksi kulit buah manggis menggunakan pelarut etanol 95% (rendemen 26,60% dengan kadar α–mangostin 13,51 % b/b) dan memberikan aktivitas anti jerawat tertinggi terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis masing-masing dengan KHM 7,81 dan 15,63 μg/mL dan KBM 15,53 dan 31,25 μg/mL.15
  • Ekstraksi bertingkat kulit buah manggis menggunakan pelarut berturut-turut n-heksan, diklorometan, etanol 95% (dengan alat Soxhlet), dan diteruskan dengan ekstraksi air (infusum) dan keempat ekstrak diuji aktivitas antibakteri terhadap bakteri yang menyebabkan jerawat, P. acnes dan S. epidermidis dengan metode mikrodilusi. Ekstrak diklorometana memperlihatkan efek antibakteri kuat dengan nilai KHM untuk kedua spesies bakteri 3,91 μg/mL, sedangkan nilai KBM adalah 3,91 dan 15,63 μg/mL. Metode bioautografi menunjukkan senyawa α-mangostin merupakan senyawa aktif yang ditemukan pada ekstrak   diklorometan, n-heksan dan etanol 95%. Kadar α-mangostin ditentukan dengan HPLC. Ekstrak diklorometana menghasilkan kandungan α-mangostin tertinggi (46,21% b/b), diikuti oleh ekstrak etanol (18,03% b/b), ekstrak heksana (17,21% b/b) dan ekstrak air (0,54 % b/b). Dapat disimpulkan bahwa ekstrak diklorometan yang mengandung α-mangostin tertinggi memperlihatkan efek anti jerawat kuat.27
 
Antikaries

  • α-Mangostin hasil isolasi dari ekstrak etanol manggis menunjukkan aktivitas penghambatan yang poten terhadap produksi asam oleh Streptococcus mutans (UA159) dan aktif terhadap enzim membran termasuk F(H+)-ATPase dan sistem phosphoenolpyruvate-sugar phosphotransferase. α-Mangostin juga menghambat enzim glikolitik aldolase, gliseraldehida-3-fosfat dehidrogenase, dan laktat dehidrogenase. Proses glikolisis pada bakteri tersebut dalam bentuk suspensi atau biofilm dapat dihambat oleh α-mangostin masing-masing pada konsentrasi 12 dan 120 μmol/L dan potensi yang lebih besar pada pH rendah. Mekanisme  penghambatan lain oleh α-mangostin antara lain (i) fermentasi malolaktat yang memproduksi alkali, dan (ii) enzim oksidase NADH, merupakan enzim respirasi utama dari S. mutans. α-Mangostin merupakan inhibitor multitarget dari S. mutans dan berpotensi sebagai senyawa antikaries gigi.28

Sitotoksik, antitumor dan antiangiogenik

  • Fraksinasi dipandu uji bioaktivitas terhadap ekstrak larut kloroform kulit batang manggis, menggunakan sel HT-29 (human colon cancer cell line) dengan metode enzyme-based ELISA NF-κB dan elusidasi menggunakan spektroskopi diperoleh xanton baru yaitu 11-hidroksi-3-O-metil-1-isomangostin (1). Selain itu, diketahui 10 senyawa lain, 11-hidroksi-1-isomangostin (2), 11α-mangostanin (3),  3-isomangostin (4), α-mangostin (5), β-mangostin (6), garsinon D (7), 9-hidroksikalabaxanton (8), 8-deoksigartanin (9), gartanin (10), dan kratoksixanton (11). Senyawa 4 sampai dengan 8 memperlihatkan aktivitas sitotoksik terhadap HT-29 cell line dengan nilai IC50 masing-masing (4,9; 1,7; 1,7; 2,3 dan 9,1) μM. Pada uji NF-κB ELISA, senyawa 5 sampai 7, 9, dan 10 menghambat aktivasi p65 dengan nilai IC50 masing-masing (15,9; 12,1; 3,2; 11,3 dan 19,0) μM, dan senyawa 6 menunjukkan aktivitas penghambatan p50 dengan nilai IC50 sebesar 7,5 μM.29
  • Penelitian lain dilakukan untuk mengetahui efek sitotoksik pada tiga senyawa xanton (α-mangostin, γ-mangostin, dan 8-deoxygartanin) terhadap sel SK-MEL-28 (human melanoma cell line). γ-Mangostin dan 8-deoksigartanin pada kadar 5 μg/mL dapat meningkatkan cell cycle arrest pada fase G1 masing-masing 90% dan 92% dibandingkan dengan kontrol. Ketiga senyawa dapat menginduksi apoptosis, tertinggi oleh α-mangostin kadar 7,5 μg/mL yang dapat menginduksi apoptosis fase awal 59,6%, dibandingkan dengan kontrol. Mekanisme apoptosis tersebut melalui peningkatan caspase-3 sebesar 25 kali lipat dan penurunan penghambatan jalur mitochondrial membrane potential sebesar 9 kali lipat bila dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa α-mangostin berpotensi  sebagai anti melanoma.30
  • Pengujian α-mangostin terhadap tiga kultur sel adenokarsinoma kolorektal yaitu COLO 205, MIP-101 dan SW 620 dengan metode MTT menunjukkan efek penghambatan terhadap proliferasi sel COLO 205, MIP-101 dan SW 620 masing-masing sebesar 9,74 ± 0,85 μg/mL; 11,35 ± 1,12 μg/mL dan 19,6 ± 1,53  μg/mL. α-Mangostin diuji pengaruhnya terhadap induksi apoptosis yang hasilnya ditunjukkan melalui parameter pembesaran membran, kondensasi kromatin, fragmentasi DNA, aktivasi caspase-3, -8, dan -9, peningkatan sitokrom c yang dihasilkan mitokondria, peningkatan Bax, p53 dan Bmf serta mengurangi potensi membran mitokondria (p < 0.05). Selain itu, diuji pengaruhnya terhadap siklus sel yang hasilnya ditunjukkan melalui parameter puncak sub-G1 yang berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kontrol.31
  • Penelitian lain dilakukan untuk mengetahui aktivitas anti proliferasi dan efek  sitotoksik senyawa xanton secara in vitro dan in vivo. Hasil uji in vitro menggunakan human colorectal adenocarcinoma cell line (COLO 205), menunjukkan bahwa xanton dapat menghambat proliferasi sel target dan menginduksi apoptosis melalui aktivasi caspase cascade. Hasil uji in vivo menggunakan mencit model tumor yang diinduksi dengan sel COLO 205 secara subkutan menunjukkan bahwa pemberian xanton dosis relatif rendah secara intratumoral dapat menekan pertumbuhan tumor. Pada dosis yang lebih tinggi, ukuran tumor berkurang secara bertahap, dan pada beberapa tikus memperlihatkan hilangnya tumor. Hasil ini menunjukkan bahwa xanton berpotensi sebagai agen anti kanker.32
  • Aktivitas antimetastase α-mangostin diteliti terhadap mouse metastatic mammary cancer yang bermutasi pada p53 dan memperlihatkan spektrum metastasis menyerupai kanker mammae pada manusia dengan model  immunocompetent xenograft. Tumor mammae, yang diinduksi dengan inokulasi metastatic BJMC3879luc2 cells pada mencit galur BALB/c, kemudian diberikan α-mangostin dosis 0, 10 dan 20 mg/kg BB/hari menggunakan pompa mini-osmotik dan kemudian dilakukan pemeriksaaan histopatologi. Hasil uji in vivo menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup secara signifikan lebih tinggi pada kelompok yang diberi α-mangostin dosis 20 mg/kg BB/ hari dibandingkan kontrol, dan dapat menekan volume tumor serta penyebaran metastase nodus limpa secara signifikan. Menggunakan metode imunohistokimia α-mangostin dosis 20 mg/kg BB/hari dapat menginduksi apoptosis dengan cara meningkatkan ekspresi caspase-3 dan 9. Uji in vitro menggunakan flowcytometry, α-mangostin dapat menginduksi apoptosis melalui jalur mitokondria dan dapat menghambat fase G1  dan mereduksi fase S pada proses siklus sel. Analisis kuantitatif dan imunohistokimia secara in vivo menunjukkan bahwa α-mangostin secara signifikan menurunkan tingkat phospho-Akt-threonine 308 (Thr308), tetapi tidak terhadap serine 473 (Ser473), baik pada kultur sel mammary carcinoma cell cultures maupun pada jaringan mammary carcinoma. Selain itu, α-mangostin memiliki manfaat chemopreventive dan/atau berguna sebagai adjuvant therapy, atau sebagai obat alternatif komplementer dalam pengobatan kanker payudara.33
  • α- dan γ-Mangostin menghambat aktivitas transkripsi TCF/ β-katenin yang berperan dalam karsinogenesitas. α- dan γ-Mangostin juga menghambat ekspresi protein β-katenin dalam sel kanker usus besar, tetapi penghambatan ini tidak tergantung fosforilasi dan degradasi β-katenin. Sebaliknya, mangostin meningkatkan kadar cGMP yang bergantung kinase, menunjukkan bahwa penghambatan β-katenin dihasilkan dari intervensi gen pengatur β-katenin.34
  • Ekstrak metanol kulit buah manggis yang mengandung α-mangostin 25,19% b/b dengan dosis 0-250 mg/kg BB diuji aktivitas antitumor secara in vivo pada mencit betina galur Balb/c yang diimplantasi dengan sel NL-17 (106 sel/hewan uji) menggunakan metode WST-1, hasilnya dapat menghambat proliferasi sel dengan nilai IC50 17 μg/mL dan dengan metode LDH menghasilkan IC50 84 μg/mL. Dosis efektif untuk aktivitas antitumor berkisar antara 100-200 mg/kg BB dapat menurunkan ukuran tumor sebesar 50-70%.35
  • α-Mangostin pada kadar 3 μg/mL menunjukkan efek apoptosis pada sel HNSCC (HN-22, HN-30, HN-31) melalui penurunan ekspresi protein bcl-2 dan meningkatkan ekspresi Bax serta p53.36
  • Sebelas xanton yang terprenilasi diuji aktivitas  enghambatan fosforilasi kinase domain receptor (KDR) tyrosine  inase. α-Mangostin kadar 10 μM menunjukkan penghambatan terhadap fosforilasi KDR tyrosine kinase dan Y1175 residue of KDR. α-Mangostin juga menunjukkan efek penghambatan terhadap proliferasi sel-sel endotel vena umbilikal manusia (human umbilical vein endothelial cells/HUVECs) (IC50 1,2 μM), dan human umbilical artery endothelial cells (IC50  2,4 μM) serta migrasi sel-sel HUVEC melalui membran dengan IC50 0,034 μM dan pembentukan tubulus dari sel-sel HUVEC pada konsentrasi 0,6 dan 1,2 μM. Hasil ini menunjukkan bahwa penghambatan fosforilasi KDR tyrosine kinase berhubungan dengan aktivitas anti-angiogenik dari α-mangostin.37
  • Ekstrak senyawa xanton (81% α-mangostin dan 16% γ-mangostin), yang didapatkan dari kristalisasi ekstrak toluen kulit buah manggis, dianalisa dengan LC-MS. Efek antikanker kolon, meliputi sitotoksisitas, apoptosis, antitumor dan efek terhadap cell signalling pathways diamati terhadap sel kanker kolorektal HCT 116 pada manusia. Hasilnya, ekstrak senyawa xanton, α-mangostin dan γ-mangostin mampu menghambat sel kanker kolon dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 6,5±1,0 μg/mL; 5,1±0,2 μg/mL dan 7,2±0,4 μg/mL. Uji in vivo efek anti kanker kolon ekstrak senyawa xanton diuji pada sel HCT 116 subcutaneous tumor model mencit NCR nu/nu. Hasilnya, perlakuan menggunakan ekstrak α-mangostin mengakibatkan nekrosis tumor pada 2 hewan uji dan penurunan ukuran tumor yang signifikan dibandingkan dengan kontrol. Penurunan ukuran tumor diamati setiap interval 5 hari dan penurunan signifikan terjadi pada hari ke-15 setelah perlakuan (0,5% b/b), dan pada hari ke-20 (0,25% b/b) (p< 0,05).38

Aktivitas perlindungan terhadap kerusakan cardiac reperfusion

  • Penelitian ini dirancang untuk mengetahui apakah α-mangostin mampu melindungi  luka reperfusi pada Langendorff-reperfused jantung. Telah dilakukan  pengamatan bahwa α-mangostin mempertahankan kerja mekanik jantung, mengurangi area infark, dan mencegah penurunan ATP jantung dan tingkat fosfokreatinin dalam reperfusi otot jantung. Efek perlindungan xanton ini berkaitan  dengan pengurangan stres oksidatif. Penggunaan α-mangostin mencegah oksidasi protein (protein yang mengandung karbonil) yang terinduksi luka reperfusi, peroksidasi lipid (kandungan malondialdehid dan 4-OH-nonenal) dan  penurunan kadar glutation. Bahkan setelah penggunaan α-mangostin, nilai-nilai dalam parameter ini sebanding dengan yang diperoleh pada jantung yang tidak mengalami reperfusi. Dapat disimpulkan bahwa α-mangostin menginduksi efek perlindungan pada jantung pasca-iskemi melalui pencegahan stres oksidatif sekunder terhadap luka reperfusi.39

Anti Alzheimer

  • β-Amiloid memainkan peran penting dalam patogenesis penyakit Alzheimer dengan menginduksi neurotoksisitas dan kematian sel terutama melalui produksi  ROS. Manggis telah diakui sebagai sumber utama antioksidan alami yang dapat  menurunkan ROS. Namun, perannya dalam perlindungan dari β-amiloid pada sel saraf masih belum jelas. Oleh karena itu dilakukan uji efek perlindungan ekstrak manggis dengan mengevaluasi viabilitas sel (menggunakan uji MTT), level ROS, aktivitas caspase-3, dan proteom seluler. Induksi sel SK-N-SH dengan 5-20 μM peptida β-amiloid 1-42 selama 24 jam menyebabkan perubahan morfologis sitotoksik, penurunan viabilitas sel dan peningkatan level ROS, sedangkan preinkubasi dengan 50-400 μg/mL ekstrak manggis 30 menit sebelum induksi dengan β-amiloid berhasil mencegah efek sitotoksik tersebut yang tergantung dosis (paling baik dosis 400 μg/mL). Induksi β-amiloid terhadap peningkatan aktivitas caspase-3 juga dapat dicegah pada dosis 400 μg/mL ekstrak manggis. Analisis proteomik menggunakan gel elektroforesis 2D (n=5 gel/kelompok) diikuti dengan spektrometri massa terungkap 63 protein yang kadarnya secara signifikan diubah oleh induksi β-amiloid. Perubahan 10 protein berhasil dicegah oleh praperlakuan ekstrak manggis. Singkatnya, dapat dilaporkan bahwa efek perlindungan yang signifikan dari ekstrak manggis terhadap sitotoksisitas induksi β-amiloid, peningkatan ROS, dan peningkatan aktivitas caspase dalam sel SK-N-SH. Selain itu, analisis proteomik mengungkapkan beberapa protein yang kemungkinan bertanggung jawab atas efek pelindung oleh ekstrak manggis. Karakterisasi lebih lanjut protein ini kemungkinan untuk mengidentifikasi target terapi baru untuk pencegahan dan atau menurunkan keparahan penyakit Alzheimer.5

Antihiperglikemi

  • Ekstrak etanol kulit buah manggis mengandung sejumlah turunan xanton yang memperlihatkan aktivitas penghambatan yang poten terhadap α-glukosidase (IC50 = 3,2 μg/mL). Sejumlah senyawa xanton yang diisolasi, memperlihatkan aktivitas penghambatan yang poten terhadap α-glukosidase dari rendah sampai tinggi dengan nilai IC50 antara 1,5 μM sampai 63,5 μM. Aktivitas senyawa- senyawa xanton menunjukkan hubungan antara aktivitas dengan jumlah dan posisi substitusi hidroksil. Hasil uji menunjukkan aktivitas penghambatan masingmasing γ-mangostin (IC50 1,5 μM), α-mangostin (IC50 5,0 μM), β-mangostin (IC50 14,4 μM), smeathxanton (IC50 6,9 μM), gartanin (IC50 10,8  μM), mangostingon (IC50 9,8 μM). Uji menggunakan substrat fisiologis maltosa, beberapa senyawa juga menunjukkan penghambatan yang poten dengan nilai berkisar antara 17,5 μM and 53,5 μM dibandingkan dengan deoksinojirimisin  (IC50 68,8 μM). Ekstrak etanol mempunyai potensi menurunkan kadar glukosa darah postprandial. Kulit biji pada kromatogram High Performance Liquid Chromatography (HPLC) menunjukkan aktivitas penghambatan α-glukosidase yang paling tinggi.40
  • Aktivitas ultraviolet-screening Ekstrak n-butanol kulit buah manggis dan α-mangostin diuji aktivitasnya untuk menapis sinar ultraviolet dibandingkan  dengan rutin dan ultramikro-titanium dioksida (TiO2). Ekstrak n-butanol kulit buah  manggis, α-mangostin, rutin dan TiO2 dipindai pada panjang gelombang yang berbeda menggunakan spektrofotometri ultraviolet. Ekstrak n-butanol dan α-mangostin memperlihatkan efek menapis sinar ultraviolet yang relatif baik pada konsentrasi lebih dari 0,40 mg/mL dan lebih baik jika dibandingkan TiO2.41

Data Toksisitas Manggis:
  • Pemberian ekstrak metanol daging buah manggis dosis 1, 2 dan  3 g/kg BB peroral selama 7 dan 14 hari pada tikus galur Wistar menunjukkan tidak ada kematian maupun perubahan dalam berat badan, berat relatif organ, cytoarchitecture organ, biokimia klinis, enzim penanda serum dan parameter hematologi bila dibandingkan dengan kontrol.42 
  • Ekstrak metanol kulit buah manggis yang mengandung α-mangostin 25,19% b/b pada uji toksisitas akut menggunakan mencit betina BALB/c menunjukkan LD50 1000 mg/kg BB yang setara dengan 1800 mg/kg BB pada tikus sehingga dikategorikan sedikit toksik.35 
  • Pada penelitian lain, ekstrak etanol daging buah manggis dosis 2 dan 5 g/kg BB yang diberikan pada tikus galur Swis dan Wistar, secara peroral selama 14 hari, hasilnya tidak menunjukkan efek toksik, sedangkan pemberian dosis 400, 600, dan 1200 mg/kg BB peroral pada tikus jantan dan betina galur Wistar setiap hari selama 12 minggu tidak menunjukkan efek perubahan tingkat laku, pola makan dan minum, pertumbuhan atau kesehatan, dan nilai hematologi jika dibandingkan dengan kontrol. Setelah 12 minggu, tidak terdapat perbedaan konsentrasi dalam parameter biokimia darah pada kelompok betina, namun pada kelompok jantan, terdapat peningkatan kadar bilirubin dengan dosis bervariasi dibandingkan dengan kontrol. Pada uji histopatologi tidak menunjukkan kelainan jaringan organ seperti jantung, hati, ginjal dan limpa.43 
  • Pada uji toksisitas kronis ekstrak etanol 95% kulit buah manggis dosis 10, 100, 500 dan 1000 mg/kg BB peroral setiap hari selama enam bulan, menunjukkan penurunan berat badan tikus jantan dan betina pada dosis tertinggi. Pada dosis 500 mg/kg BB/ hari, alanine transminase (ALT) tikus jantan secara signifikan lebih tinggi. Tikus jantan dan betina dengan ekstrak dosis tertinggi memiliki aspartate transminase (AST) lebih tinggi, sedangkan kadar glukosa lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol. Tikus jantan pada dosis tertinggi dan kelompok satelit memiliki nilai blood urea nitrogen (BUN) lebih tinggi. Tikus betina yang menerima ekstrak pada dosis 500 mg/kg BB/ hari memiliki BUN dan kreatinin lebih tinggi. Hasil histopatologi organ visceral menunjukkan tidak ada lesi yang signifikan terkait dengan ekstrak, kecuali kelompok satelit dari kedua jenis kelamin, yang memiliki lesi lebih tinggi pada hati, di mana kelompok satelit menggunakan dosis tertinggi. Empat belas hari setelah pemberian dihentikan, gangguan fungsi hati dan ginjal belum mengalami pemulihan bahkan meningkat.44 
  • Pada dosis besar dan pemakaian jangka panjang beresiko negatif terhadap fungsi hati dan ginjal.45

Daftar Pustaka :
  1. Verheij EWM. Garcinia mangostana L. In: Verheij EWM and Coronel RE. (Editors). Plant resources of South-East Asia No. 2: Edible fruits and nuts. Wageningen: Pudoc; 1991: p.177-181.
  2. Materia medika Indonesia. Jilid V. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 1989: p.221-225.
  3. Morton J. Mangosteen. In: Fruits of warm climates. 1987; Miami: p.301-304.
  4. Garcinia mangostana L. Taxonomic Serial No.: 21484, ITIS [May, 28th, 2012] from the Integrated Taxonomic Information System (ITIS) (http://www.itis.gov).
  5. Moongkarndi P, Srisawat C, Saetun P, Jantaravinid J, Peerapittayamongkol C, Soi-ampornkul R, Junnu S, Sinchaikul S, Chen ST, Charoensilp P, Thongboonkerd V, Neungton N. Protective effect of mangosteen extract against beta-amyloid-induced cytotoxicity, oxidative stress and altered proteome in SK-N-SH cells. J Proteome Res. 2010 May 7; 9(5): 2076-2086.
  6. Mardisiswojo S, Rajakmangunsudarso H. Cabe puyang warisan nenek moyang. Jakarta: PN Balai Pustaka; 1985: p.143-144.
  7. Pedraza-Chaverri J, Cárdenas-Rodríguez N, Orozco-Ibarra M, Pérez-Rojas JM, Medicinal properties of mangosteen (Garcinia mangostana), Food Chem Toxicol. 2008;46(10):3227-3239.
  8. Chairungsrilerd N, Takeuchi K, Ohizumi Y, Nozoe S, Ohta T. Mangostanol, a prenyl xanthone from Garcinia mangostana. Phytochem. 1996; 43(5): 1099-1102.
  9. Chaivisuthangkura AY, Malaikaew A, Chaovanalikit A, Jaratrungtawee P, Panseeta P, Ratananukul S, Suksamrarn. Prenylated xanthone composition of Garcinia mangostana (mangosteen) fruit hull. Chromatographia. 2009; ( 69): 3-4.
  10. Keiser J, Vargas M, Winter R. Anthelminthic properties of mangostin and mangostin diacetate. Parasitology International. 2012; 61: 369-371.
  11. Ho CK, Huang YL, Chen CC. Garcinone E, a xanthone derivative, has potent cytotoxic effect against hepatocellular carcinoma cell lines. Planta Med. 2002; 68: 975-979.
  12. Zadernowski R, Czaplicki S, Naczk M. Phenolic acid profiles of mangosteen fruits (Garcinia mangostana). Food Chemistry. 2009; 112: 685-689.
  13. Zarena AS, Udaya Sankar K. Isolation and  identification of pelargonidin 3-glucoside in mangosteen pericarp. Food Chemistry. 2012; 130: 665-670.
  14. Zhou HC, Lin YM, Wei SD, Tam NF. Structural diversity and antioxidant activity of condensed tannins fractionated from mangosteen pericarp. Food Chemistry. 2011; 129: 1710-1720.
  15. Pothitirat W, Chomnawang MT, Supabphol R, Gritsanapan W. Free radical scavenging and anti-acne activities of mangosteen fruit rind extracts prepared by different extraction methods. Pharm Biol. 2010; 48(2): 182-186.
  16. Ngawhirunpat T, Opanasopi P, Sukma M, Sittisombut C, Kat A, Adachi I. Antioxidant, free radical-scavenging activity and cytotoxicity of different solvent extracts and their phenolic constituents from the fruit hull of
    mangosteen (Garcinia mangostana), Pharm Biol. 2010; 48(1): 55-62.
  17. Pothitirat W, Chomnawang MT, Supabphol R, Gritsanapan W. Comparison of bioactive compounds content, free radical scavenging and anti-acne inducing bacteria activities of extracts from the mangosteen fruit rind at two stages of maturity. Fitoterapia. 2009; 80(7): 442-447.
  18. Pedraza-Chaverrí J, Reyes-Fermín LM,  Nolasco-Amaya EG, Orozco-Ibarra M, Medina-Campos ON, González-Cuahutencos O, Rivero-Cruz I, Mata R. ROS scavenging capacity and neuroprotective effect of α-mangostin against 3-nitropropionic acid in cerebellar granule neurons. Exp Toxicol Pathol. 2009; 61(5): 491-501.
  19. Martínez A, Galano A, Vargas R. Free radical scavenger properties of α-mangostin: thermodynamics and kinetics of HAT and RAF  mechanisms. J Phys Chem B. 2011; 115 (43): 12591-12598.
  20. Martínez A, Hernández-Marin E, Galano A. Xanthones as antioxidants: a theoretical study on the thermodynamics and kinetics of the single electron transfer mechanism. Food Funct. 2012; (3): 442-450.
  21. Cui J, Hu W, Cai Z, Liu Y, Li S, Tao W, Xiang H. New medicinal properties of mangostins: analgesic activity and pharmacological characterization of active ingredients from the fruit hull of Garcinia mangostana L. Pharmacol
    Biochem Behav. 2010; 95(2): 166-172.
  22. Sukma M, Tohda M, Suksamran S, Tantisira B. γ-Mangostin increases serotonin2A/2C, muscarinic, histamine and bradykinin receptor mRNA expression. J Ethnopharmacol. 2011; 135(2): 450-454.
  23. Tewtrakul S, Wattanapiromsakul C, Mahabusarakam W. Effects of compounds from Garcinia mangostana on inflammatory mediators in RAW264.7 macrophage cells. J Ethnopharmacol. 2009; 121(3):  379-382.
  24. Chomnawang MT, Surassmo S, Wongsariya K, Bunyapraphatsara N. Antibacterial activity of Thai medicinal plants against methicillin-resistant
    Staphylococcus aureus. Fitoterapia. 2009; 80(2): 102-104.
  25. Dharmaratne HR, Sakagami Y, Piyasena KG, Thevanesam V, Antibacterial activity of xanthones from Garcinia mangostana L. and their structure-activity relationship studies, Nat Prod Res. 2012.
  26. Kaomongkolgit R, Jamdee K, Chaisomboon N. Antifungal activity of alpha-mangostin against Candida albicans. J Oral Sci. 2009; 51(3): 401-406.
  27. Pothitirat W, Chomnawang MT, Gritsanapan W. Antiacne-inducing bacterial activity of mangosteen fruit rind extracts. Med Princ Pract. 2010; 19(4):  281-286.
  28. Nguyen PT, Marquis RE. Antimicrobial actions of α-mangostin against oral streptococci. Can J Microbiol. 2011; 57(3): 217-225.
  29. Han AR, Kim JA, Lantvit DD, Kardono LB, Riswan S, Chai H, Carcache de Blanco EJ, Farnsworth NR, Swanson SM, Kinghorn AD. Cytotoxic xanthone constituents of the stem bark of Garcinia mangostana (mangosteen). J Nat Prod. 2009; 72(11): 2028-2031.
  30. Wang JJ, Sanderson BJ, Zhang W, Cytotoxic effect of xanthones from pericarp of the tropical fruit mangosteen (Garcinia mangostana Linn.) on human melanoma cells, Food Chem Toxicol. 2011; 49(9): 2385-2391.
  31. Watanapokasin R, Jarinthanan F, Nakamura Y, Sawasjirakij N, Jaratrungtawee A, Suksamrarn S. Effects of α-mangostin on apoptosis induction of human colon cancer. World J Gastroenterol. 2011; 17(16): 2086–2095.
  32. Watanapokasin R, Jarinthanan F, Jerusalmi A, Suksamrarn S, Nakamura Y, Sukseree S, Uthaisang-Tanethpongtamb W, Ratananukul P, Sano T. Potential of xanthones from tropical fruit mangosteen as anti-cancer agents: caspasedependent apoptosis induction in vitro and in mice. Appl
    Biochem Biotechnol. 2010; 162(4): 1080-1094.
  33. Shibata MA, Iinuma M, Morimoto J, Kurose H, Akamatsu K, Okuno Y, Akao Y, Otsuki Y. α-Mangostin extracted from the pericarp of the mangosteen (Garcinia mangostana Linn) reduces tumor growth and lymph node metastasis in an immunocompetent xenograft model of metastatic mammary cancer carrying a p53 mutation. BMC Med. 2011; 9: 69.
  34. Yoo JH, Kang K, Jho EH, Chin YW Kim J, Nho CW. α-Mangostin dan γ-mangostins inhibit the proliferation of colon cancer cells via β-catenin gene regulation in Wnt/cGMP signalling. Food Chem. 2011; 129: 1559-1566.
  35. Kosem N, Ichikawa K, Utsumi H, Moongkarndi P. In vivo toxicity and antitumor activity of mangosteen extract. J Nat Med. 2012.
  36. Kaomongkolgit R, Chaisomboon N, Pavasant P. Apoptotic effect of alpha-mangostin on head and neck squamous carcinoma cells. Arch Oral Biol. 2011; 56(5): 483-490.
  37. Shiozaki T, Fukai M, Hermawati E, Juliawaty LD, Syah YM, Hakim EH, Puthongking P, Suzuki T, Kinoshita K, Takahashi K, Koyama K. Anti-angiogenic effect of α-mangostin. J Nat Med. 2012.
  38. FA Aisha A, Abu Salah KM, Ismail Z, Abdul Majid AMS. In vitro and in vivo anti-colon cancer effects of Garcinia mangostana xanthones extract. BMC Complementary and Alternative Medicine. 2012; 12:104.
  39. Buelna-Chontal M, Correa F, Herna´ndez-Rese´ndiz S, Zazueta C, Pedraza-Chaverri J. Protective Effect of a-Mangostin on Cardiac Reperfusion Damage by Attenuation of Oxidative Stress. J Med Food. 2011; 14 (11): 1370-1374.
  40. Ryu HW, Cho JK, Curtis-Long MJ, Yuk HJ, Kim YS, Jung S, Kim YS, Lee BW, Park KH. α-Glucosidase inhibition and antihyperglycemic activity of prenylated xanthones from Garcinia mangostana. Phytochemistry. 2011; 72(17):2148-2154.
  41. Zhang C, Bu Q, Zheng Y, Song B, Li W. Study on ultravioletscreening effect of extracts from mangosteen (Garcinia mangostana Linn.) pericarp. Wei Sheng Yan Jiu. 2011; 40(4): 505-506.
  42. Vishnu Priya V, Jainu M, Mohan SK, Karthik B, Saraswathi P, Chandra Sada Gopan VS. Toxicity study of Garcinia Mangostana Linn. pericarp extract in rats. Asian J Exp Biol Sci. 2010; 1(3): 633-637.
  43. Hutadilok-Towatana N, Reanmongkol W, Wattanapiromsakul C,  Bunkrongcheap R. Acute and subchronic toxicity evaluation of the hydroethanolic extract of mangosteen pericarp. J Med Plants Res. 2010;
    4(10): 969-974.
  44. Chivapat S, Chavalittumrong P, Wongsinkongman P, Phisalpong C, Rungsipipat A. Chronic toxicity study of Garcinia mangostana Linn. pericarp extract. Thai J Vet Med. 2011. 41(1): 45-53.
  45. Foti RS, Pearson JT, Rock DA, Wahlstrom JL, Wienkers LC. In vitro inhibition of multiple cytochrome P450 isoforms by xanthone derivatives from mangosteen extract. Drug Metab Dispos. 2009; 37(9): 1848-1855.




Blogroll

About

Informasi herbal di situs ini dimaksudkan hanya untuk tujuan memperkaya informasi seputar herbal atau sebagai bahan pertimbangan dalam memutuskan untuk memberikan/ menerima suatu terapi herbal. Informasi tersebut tidak ditujukan sebagai pengganti terapi oleh praktisi kesehatan yang berwenang. Pengelola situs tidak bertanggung jawab atas konsekuensi/akibat dari penggunaan informasi herbal ini.